Dasar

Sitotaksonomi adalah disiplin ilmu yang mempelajari variasi dan menerangkan ketidaksinambungan variasional dan kekerabatan dalam batas-batas sitologi. Sitologi adalah ilmu tentang seluk beluk sel. Meskipun istilah sitologi menyangkut semua aspek sel, namun bila dikaitkan dengan taksonomi, pembahasan difokuskan pada kromosom dan berbagai atributnya.

Sitotaksonomi

Berbagai data kromosom yang digunakan untuk tujuan taksonomi, yaitu:

  • jumlah,
  • ukuran dan bentuk,
  • perilaku pada waktu meiosis, meiosis, nucleus,
  • jumlah dan morfologi kromosom.

Sampai sekarang kira-kira baru 10 % dari seluruh tumbuhan yang ada yang sudah diperiksa secara sitologi. Jumlah kromosom bervariasi dari n (jumlah haploid atau jumlah satu set kromosom) = 2 untuk Haplopappus gracilis (Compositae/Asteraceae) sampai n = 631 Ophioglosum reticulatum (tumbuhan paku).

Secara garis besar terdapat tiga macam jumlah kromosom:

  • Jumlah kromosom yang sama untuk seluruh anggota golongan Contoh : Pinus n = 12
  • Adanya kelipatan jumlah kromosom sehingga terjadi deret poliploidi Contoh : Taraxacum (compositae) 2n = 16, 24,32,40, 48. Deret 8 ini merupakan kromosom dasar yang ditandai dengan x. Pada Dryopteris jenis-jenis yang ada merupakan kelipatan jumlah dasar kromosom gamet (x = 41): 82, 123, 164
  • Jumlah kromosom yang tidak beraturan, bisa bertambah atau berkurang satu demi satu jika dibandingkan jumlah dasar haploidnya disebut aneuploid

Contoh : Clarkia. Pada kelompok ini bisa descendingseri dari 6-5 sedangkan 6-7-8-9 adalah ascending seri. Pada contoh ini 6 adalah kromosom dasar.

Perbedaan Antara Sitotaksonomi, Kemotaksonomi, dan Molekuler Taksonomi

  • Sitotaksonomi

disiplin ilmu yang mempelajari variasi dan menerangkan ketidaksinambungan variasional dan kekerabatan dalam batas-batas sitologi. Data sitologi umumnya bersal dari nucleus, jumlah dan morfologi kromosom, dan kelakuan kromosom pada waktu meosis. Contoh jumlah kromosom bervariasi dari n (jumlah haploid atau jumlah satu set kromosom) = 2 untuk Haplopappus gracilis (Compositae/Asteraceae) sampai n = 631

  • Kemotaksonomi

merupakan kegiatan mengklasifikasikan, mencirikan serta memberi nama organisme berdasarkan kandungan kimia yang dimiliki. Tujuannya untuk mengetahui hubungan kekerabatan antar organisme berdasarkan senyawa kimianya. Kemotaksnonomi adalah pengelompokan makhluk hidup dengan pendekatan metode analitik untuk mengumpulkan informasi dari konstituen-konstituen kimia dari sel. Kemotaksonomi berkembang mengikuti kemajuan isolasi kandungan kimia tumbuhan. Dalam banyak hal, distribusi kandungan kimia tumbuhan sesuai dengan kedudukan taksonomik tumbuhan berdasar ciri-ciri morfologi. Karateristik fenotopik yang sering digunakan adalah morfologi makroskopik dan mikroskopik, reproduksi seksual, sifat-sifat fisiologi dan biokimia.

  • Sistematika molekuler merupakan disiplin ilmu yang mengklasifikasikan organisme-organisme ke dalam taksa-taksa tertentu berdasarkan kemiripan (similaritas) dan ketidakmiripan (disimilaritas) karakter asam nukleat (DNA dan RNA), dan protein yang dimiliki organisme tersebut. Penggunaan data-data molekuler sebagai penunjang data morfologi diharapkan akan dapat menjadi dasar yang lebih kuat dalam penentuan klasifikasi. Sistematik molekuler juga memudahkan ilmuwan untuk mengetahui seberapa banyak perubahan yang terjadi akibat proses evolusi dan hubungan antara beberapa spesies yang tidak memiliki kemiripan morfologi. Perubahan molekuler yang terjadi tersebut juga dapat digunakan untuk mengekplorasi filogeni dari organisme uji. Data karakter molekuler yang dapat digunakan pada sistematik molekuler secara garis besar dapat dibedakan menjadi data karakter protein dan asam nukleat (DNA dan RNA). Data molekuler yang paling sering digunakan pada sistematik molekuler tanaman antara lain isozyme, allozyme, sekuen DNA, DNA restriction sites, microsatelit, RAPD, dan AFLP. Molekul taksonomi merupakan kegiatan mengklasifikasikan, mencirikan, serta memberi nama organism berdasarkan genetic yang dapat dilihat dari molekul yang dimiliki seperti kromosom. Tujuannya untuk mengetahui hubungan kekerabatan antar organism berdasarkan tingkatan molekul.