Pengembangan Instrumen Evaluasi Tes

Pengembangan Instrumen Evaluasi Tes

Download file Pengembangan Instrumen Evaluasi Tes untuk universitas dalam format (document) .doc agar mudah dibaca dan tertata rapi lengkap.

Google Drive Mirror (Zippyshare, Mediafire, Openload)

  1. Teknik Pelaksanaan dan Penyusunan Tes
  2. Ciri- ciri Tes Belajar yang Baik

Terdapat  4 ciri-ciri test hasil belajar yang baik menurut Anas (2007) yaitu: valid, reliabel, obyektif, dan praktis. Valid dapat diartikan sebagai ketepatan, kebenaran, keshahihan. Reliabel yaitu keajegan, kemantapan. Obyektif maksudnya jika suatu tes itu menurut apa adanya dari sumber. Praktis artinya suatu tes tersebut harus mudah dilaksanakan karena test itu harusbersifat sederhana dan lengkap. Senada dengan itu Arikunto juga menunjukkan setidaknya ada 5 ciri-ciri tes hasil belajar yang baik, yaitu memiliki:

  1. Validitas

Pembicaraan mengenai evaluasi pada umumnya sering dikenal istilah “valid” untuk alat evaluasi atau instrumen evaluasi. Sebuah data atau informasi dapat dikatakan valid apabila sesuai dengan keadaan nyatanya. Jika data yang dihasilkan dari sebuah instrumen valid, maka dapat dikatakan bahwa instrumen tersebut valid, karena dapat memberikan gambaran tenntang data secara benar sesuai dengan kenyataan atau keadaan sesungguhnya. Berkaitan dengan tes, seuah tes dikatakan valid apabila tes itu dapat mengukur apa yang hendaknya diukur.

  1. Reliabilitas

Kata reliabilitas dalam bahasa Indonesia diambil dari kata reliability dalam bahasa Inggris, berasal dari kata reliable yang artinya dapat dipercaya. Seseorang dapat dikatakan dapat dipercaya jika orang tersebut selalu berbicara benar, tidak berubah-ubah pembicaraannya dari waktu ke waktu. Sama pula dengan sebuah tes dapat dikatakan dipercaya jia memberikan hasil yang tetap apabila diteskan berkali-kali. Sebuah tes dikatakan reliabel apabila hasil-hasil tes tersebut menunjukkan ketepatan. Dengan kata lain, jika kepada siswa yang diberian tes yang sama pada waktu yang berlainan, maka setiap siswa akan tetap berada dalam urutan (ranking) yang sama dalam kelompoknya.

Walaupun hasil tes pada pengetesan kedua lebih baik, akan tetapi karrena kenaikan dialami oleh siswa, maka tes yang digunakan dapat dikatakan memiliki reliabilitas yang tinggi. Kenaikan tes kedua dapat disebabkan oleh adanya “pengalaman” yang diperoleh pada waktu mengerjakan tes pertama. Dalam keadaan seperti ini dikatakan bahwa ada carry-over atau practice-effect , yaitu adanya akibat yang dibawa karena siswa telah mengalami suatu kegiatan.

  1. Objektifitas

Sebuah tes dikatakan objektif apabila dalam melaksanakan tes itu tidak ada faktor subjektif yang mempengaruhi. Apabila dikaitkan dengan reliabilitas maka objektifitas menekankan ketetapan (consistency) pada sistem skoring, sedangkan reliabilitas menekankan pada ketetapan dalam hasil tes.

  1. Praktikabilitas

Sebuah tes dikatakan memiliki praktikabilitas yang tinggi apabila tes tersebut bersifat praktis, mudah pengadministrasiannya. Tes dikatakan praktis apabila tes tersebut:

  • Mudah dilaksanakan, misalnya tidak menuntut peralatan yang banyak dan memberikan kebebasan kepada siswa untuk mengerjakan terlebih dahulu bagian yang dianggap mudah oleh siswa.
  • Mudahpemeriksaannya, artinya bahwa tes itu dilengkapi dengan kunci jawaban; jawaban maupun pedoman skoringnya. Untuk soal bentuk objektif, pemeriksa akan lebih mudahdilakukan jika dikerjakan oleh siswa dalam lembar jawaban.
  • Dilengkapi dengan petunjuk-petunjuk yang jelas sehingga dapat diberikan/diawali oleh orang lain.

 

  1. Prinsip-prinsip dasar dalam penyusunan tes

Terdapat beberapa prinsip dasar yang perlu dicermati di dalam menyusun tes hasil belajar agar tes tersebut dapat mengukur tujuan instruksional khusus untuk mata pelajaran yang telah diajarkan, atau mengukur kemampuan dan keterampilan peserta didik yang diharapkan, setelah mereka menyelesaikan suatu unit pelajaran tertentu.

  1. tes hasil belajar harus dapat mengukur secara jelas hasil belajar (learning outcomes) yang telah ditetapkan sesuai dengan tujuan instruksional. Kejelasan mengenai pengukuran hasil belajar yang dikehendaki akan memudahkan bagi guru dalam menyusun butir-butr soal tes hasil belajar.
  2. butir-butir soal tes hasil belajar harus merupakan sampel yang representatif dari populasi bahan pelajaran yang telah diajarkan, sehingga dapat dianggap mewakili seluruh performance yang telah diperoleh selama peserta didik mengikuti suatu unit pelajaran.
  3. bentuk soal yang dikeluarkan dalam tes hasil belajar harus dibuat bervariasi, sehingga cocok untuk mengukur hasil belajar yang diinginkan sesuai dengan tujuan tes itu sendiri. Untuk mengukur hasil belajar yang berupa keterampilan misalnya, tidak tepat kalau hanya menggunakan soal-soal yangberbentuk essay test yang jawabannya hanya menguraikan dan bukan melakukan atau mempraktekan sesuatu. Demikian pula untuk mengukur kemampuan menganalisis suatu prinsip, tidak cocok jika digunakan butir-butir soal yang berbentuk objective test yang pada dasarnya hanya mengungkap daya ingat peserta didik.
  4. tes hasil belajar harus didesain sesuai dengan kegunaannya untuk memperoleh hasil yang diinginkan. Pernyataan tersebut mengandung makna, bahwa desain tes hasil belajar harus disusun relevan dengan kegunaan yang dimiliki oleh masing-masing jenis tes. Desain dari placement test (tes yang digunakan untuk untuk penentuan penempatan siswa dalam suatu jenjang atau jenis program pendidikan tertentu) tentu akan berbeda dengan desain dari formative test (tes yang digunakan untuk mencari umpan balik guna memperbaiki proses pembelajaran, baik bagi guru maupun bagi siswa) dan summatif test (tes yang digunakan untuk mengukur atau menilai sampai dimana pencapaian siswa terhadap bahaan pelajaran yang telah diajarkan dan selanjutnya untuk menentukan kenaikan tingkat atau kelulusan siswa yang bersangkutan). Demikian pula desain dari diagnostic test (tes yang digunakan dengan tujuan untuk mencari sebab-sebab kesulitan belajar siswa, seperti latar belakang psikologis, fisik, dan lingkungan sosial ekonomi siswa) tentu akan berbeda pula dengan tiga jenis tes yang telah disebutkan sebelumnya.
  5. tes hasil belajar harus memiliki reliabilitas yang dapat diandalkan. Artinya setelah tes hasil belajar itu dilaksanakan berkali-kali terhadap subyek yang sama, hasilnya selalu sama atau relatif sama.Dengan demikian tes hasil belajar itu hendaknya memiliki hasil pengukuran yang tidak diragukan lagi.
  6. tes hasil belajar disamping harus dapat dijadikan alat untuk mencari informasi yang berguna untuk memperbaiki cara belajar siswa dan cara mengajar guru itu sendiri.
  7. Bentuk-bentuk tas hasil belajar dan teknik penyusunannya
  8. Tes hasil belajar bentuk uraian

Tes uraian memiliki karakteristik:

Berbentuk pertanyaan atau perintah yang menghendaki jawaban berupa uraian/paparan kalimat panjang, bentuk pertanyaan menuntut testee untuk memberikan penjelasan/komentar, jumlah soalnya terbatas dan umumnya di awal dengan kata jelaskan, mengapa, bagaimana, uraikan.

  1. Penggolongan tes uraian
  • Tes uraian bentuk bebas/terbuka, yaitu tes yang menghendaki jawaban dari testee atau evaluator sepenuhnya.
  • Tes uraian bentuk terbatas yaitu, tes yang menghendaki jawaban yang sudah terarah. Tes uraian dipergunakan apabila pembuat soal menghendaki seberapa jauh pemahaman testeer pada materi tertentu.
  1. Kelebihan dan kekurangan

Kelebihan:

  • Tes yang dapat dibuat dengan cepat dan mudah
  • dapat di cegah spekulasi pada testee
  • dapat mengetahui pemahaman testee
  • testee akan terdorong untuk berani mengemukakan pendapat

Kekurangan:

  • kurang dapat mencakup isi materi keseluruhan
  • cara mengoreksi jawaban sulit
  • tester cenderung subyektif
  • pekerjaan koreksi sulit diserahkan kepada orang lain
  • daya mengukur dan keajegan cenderung rendah.

 

  1. Petunjuk operasional penyusunan tes uraian
  • Diusahakan agar butir-butir soal tes uraian dapat mencakup materi yang telah di ajarkan
  • Untuk menghintari kecurangan, susunan alimatsoal dibuat berlainan dengan kalimat di buku.
  • Setelah membuat tes, hendaknya dirumuskan dengan tegas
  • Jangan membuat dengan perintah seragam
  • Kalimat soal hendaknya disingkat secara ringkas
  • Hendaknya di kemukakan pedoman dalam menjawab tes
  1. Tes hasil belajar bentuk objektif

Tes objektif yang juga dikenal dengan istilah tes jawaban pendek, tes”ya-tidak” dan tes model baru, adalah salah satu jenis tes hasil belajar yang terdiri dari butir-butir soal yang dapat dijawab oleh testee dengan jalan memilih salah satu (atau lebih) diantara beberapa kemungkinan jawaban yang telah dipasangkan pada masing-masing items, atau dengan jalan menuliskan(mengisikan) jawabannya berupa kata-kata atau simbol-simbol tertentu pada tempat atau ruang yang telah disediakan untuk masing-masing butir item yang bersangkutan.

  1. Penggolongan Tes Objektif

sebagai salah satu jenis tes hasil belajar, tes objektif dapat dibedakan menjadi lima golongan, yaitu:

  • Tees Objektif Bentuk benar-salah (true-False test)
  • Tes Objektif bentuk menjodohkan (Matching test)
  • Tes Objektif bentuk melengkapi(Completion test)
  • Tes Objektif bentuk isian (Fill in test)
  • Tes Objektif bentuk pilihan ganda (Multiple Choice item test).
  1. Kelebihan serta Kelemahan Tes Objektif

Kelebihan :

  • Mengandung lebih banyak segi-segi positif, misalnya lebih representatif mewakili isi dan luas bahan, lebih objektif, dapat dihindari campur tangannya unsur-unsur subjektif baik dari segi siswa maupun segi guru yang memeriksa.
  • Lebih mudah dan cepat cara memeriksanya karena dapat menggunakan kunci tes bahkan alat-alat hasil kemajuan teknologi.
  • Pemeriksaannya dapat diserahkan kepada orang lain.
  • Dalam pemeriksaan, tidak ada unsur subjektif yang mempengaruhi.

Kelemahan tes objektif

  • Kurang memberikan kesempatan untuk menyatakan isi hati atau kecakapan yang sesungguhnya karena anak tidak membuat kalimat.
  • Memungkinkan anak mengisi jawaban dengan coba-coba.
  • Menyusun tes ini tidak mudah, sangat memerlukan waktu yang lama.
  • Kurang ekonomis karena memakan biaya yang cukup besar ketimbang denga tes essai.
  1. Macam-macam tes objektif
  • Tes benar-salah (True-False) adalah tes yang butir-butir soalnya mengharuskan siswa mempertimbangkan suatu pernyataan sebagai pernyataan yang benar atau salah

Contoh:

  1. Y-N = Apakah Surabaya ibukota Jawa Tengah?
  2. R-W = Joko Widodo merupakan presiden RI yang pertama.

 

  • Tes pilihan ganda (Multiple Choice Test) terdiri atas suatu keterangan atau pemberitahuan tentang suatu pengertian yang belum lengkap. Dan untuk melengkapinya harus memilih satu dari beberapa kemungkinan jawaban yang telah disediakan.

Contoh:

Termometer ialah alat untuk mengukur….

  1. Suhu udara                   c. Curah hujan
  2. Suhu badan                  d. Kecepatan angin.

 

  • Menjodohkan (Matching Test)

Dalam bentuk tradisional item tes menjodohkan terdiri dari dua kolom yang paralel. Tiap kata, bilangan, atau simbol dijodohkan dengan kalimat, frase, atau kata dalam kolom yang lain.

Contoh:

Premis Respon
1. Ibukota Indonesia

. 2. Tempat penyelenggaraan Olimpiade pertama

3. Kota terbesar di dunia

4. Disebut kota mode dunia

a. Athena

b. Jakarta

c. New York

d. Paris

e. New Delhi

f. Manila

  • Tes isian (Complition Test) merupakan tes yang butir-butir soalnya terdiri dari kalimat pernyataan yang belum sempurna, di mana siswa diminta untuk melengkapi kalimat tersebut dengan satu atau beberapa kata pada titik-titik yang telah disediakan.

Contoh:

  1. Columbus menemukan Benua Amerika pada tahun…….
  2. Air dapat membeku pada suhu…….derajat Fahrenheit.
  3. Petunjuk operasional Penyusunan tes objektif

Dengan tujuan agar tes objektif betul-betul dapat menjalankan fungsinya sebagai alat pengukur hasil belajar, maka petunjuk operasional berikut ini kiranya dapat dijadikan pedoman dalam menyusun butir-butir item tes objektif.

          Pertama, untuk dapat menyusun butir-butir soal tes objektif yang bermutu tinggi, pembuat soal tes harus membiasakan diri dan sering berlatih, sehingga dari waktu ke waktu dapat merancang dan menyusun dengan lebih baik dan sempurna.

          Kedua, setelah selesai melakukan tes sebaiknya menganalisa item, dengan tujuan untuk mengetahui butir-butir item mana yang masuk dalam kategori baik atau tidak.

          Ketiga, dalam rangka mencegah timbulnya permainan spekulasi dan kerjasama, perlu disiapkan peraturan di mana untuk soal yang dijawab salah akan mendapatkan pengurangan skor. Dengan cara demikian testee akan bekerja secara jujur dan berusaha menjawab soal menurut keyakinannya.

          Keempat, dalam menyusun soal-soal objektif hendaknya menggunakan bahasa yang ringkas, sederhana, dan mudah dipahami oleh testee.

          Kelima, agar tes objektif di samping mengungkap aspek ingatan atau hafalan juga dapat mengungkap aspek-aspek berpikir yang lebih dalam, maka dalam merancang butir-butir item tes objektif hendaknya tester menggunakan alat berupa Tabel Spesifikasi soal yang biasa dikenal dengan kisi-kisi soal. Diharapkan dengan menggunakan alat itu akan terjadi keseimbangan antara jumlah soal dengan aspek psikologis testee.

  1. Teknik pelaksanaan tes hasil belajar
  • Teknik pelaksanaan tes tertulis

Dalam mengerjakan tes tertulis ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  1. Agar dalam mengerjakan soal tes para peserta mendapat ketenangan
  2. Ruangan tes cukup longgar
  3. Ruangan tes sebaiknya memiliki sistem pencahayaan dan pertukaran udara yang baik
  4. Jika tidak tersedia meja tulis atau kursi, hendaknya sudah disiapkan alas tulis pengganti
  5. Testee mengerjakan soal secara bersamaan
  6. Dalam mengawasi testee, hendaknya jangan berperilaku wajar
  7. Sebelum tes, hendaknya ditentukan sanksi bagi testee yang curang
  8. Sebagai bukti mengikuti tes, disiapkan daftar hadir
  9. Jika waktu habis, testee dipersilakan mengumpulkan jawaban dan meninggalkan ruangan
  10. Untuk mencegah terjadinya kesulitan dikemudian hari, hendaknya ditulis keadaan testee di berita acara.
  • Teknik pelaksanaan tes tertulis

Dalam teknik pelaksanaan tes tertulis ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  1. Sebelum tes lisan dilaksanakan, seyogyanya tester sudah melakukan inventarisasi berbagai jenis soal yang akan diajukan kepada testee dalam tes lisan tersebut.
  2. Setiap butir soal yang telah ditetapkan untuk diajukan dalam tes lisan itu, juga harus disiapkan sekaligus pedoman atau ancar-ancar jawaban betulnya.
  3. Jangan sekali-kali menentukan skor atau nilai hasil tes lisan setelah seluruh testee menjalani tes lisan.
  4. Tes hasil belajar yang dilaksanakan secara lisan hendaknya jangan sampai menyimpang atau berubah arah dari evaluasi menjadi diskusi.
  5. Dalam rangka menegakkan prinsip obyektivitas dan prinsip keadilan, dalam tes yang dilaksanakan secara lisan itu, tester hendaknya jangan sekali-kali “memberikan angin segar” atau “memancing-mancing” dengan kata-kata, kalimat-kalimat atau kode-kode tertentu yang sifatnya menolong testee
  6. Tes lisan harus berlangsung secara wajar. Pernyataan tersebut mengandung makna bahwa tes lisan itu jangan sampai menimbulkan rasa takut, gugup atau panik di kalangan testee.
  7. Sekalipun acapkali sulit untuk dapat diwujudkan, namun sebaiknya tester mempunyai pedoman atau ancar-ancar yang
  8. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam tes lisan hendaknya dibuat bervariasi, dalam arti bahwa sekalipun inti persoalan yang ditanyakan itu sama, namun cara pengajuan pertanyaannya dibuat berlainan atau beragam.
  9. Sejauh mungkin dapat diusahakan agar tes lisan itu berlangsung secara individual (satu demi satu).
  • Teknik Pelaksanaan Tes Perbuatan

Tes perbuatan pada umumnya digunakan untuk mengukur taraf kompetensi yang bersifat keterampilan (psikomotorik), dimana penilaiannya dilakukan terhadap proses penyelesaian tugas dan hasil akhir yang dicapai oleh testee setelah melaksanakan tugas tersebut. Tes ini hendaknya dilakukan secara individual.

Dalam melaksanakan tes perbuatan itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh tester, yaitu:

  1. Tester harus mengamati dengan secara teliti, cara yang ditempuh oleh testee dalam menyelesaikan tugas yang telah ditentukan
  2. Agar dapat dicapai kadar obyektivitas setinggi mungkin, hendaknya tester jangan berbicara atau berbuat sesuatu yang dapat mempengaruhi testee yang sedang mengerjakan tugas tersebut.

Dalam mengamati testee yang sedang melaksanakan tugas itu, hendaknya tester telah menyiapkan instrumen berupa lembar penilaian yang di dalamnya telah ditentukan hal-hal apa sajakah yang harus diamati dan diberikan penilaian.

  1. Teknik Pemeriksaan, Pemberian Skor dan Pengolahan Hasil Tes Belajar
  2. Teknik Pemeriksaan Hasil Tes Hasil Belajar

Teknik pemeriksaan tes hasil belajar terdiri atas tiga jenis teknik. Adapun tiga jenis teknik melakukan pemeriksaan hasil tes hasil belajar yaitu teknik pemeriksaan hasil tes tertulis, tes lisan, dan tes perbuatan.

  • Teknik Pemeriksaan Hasil Tes Tertulis

Tes hasil belajar (tertulis) bentuk uraian (subjective test = essay test) dan tes hasil belajar (tertulis) bentuk objektif (objective test). Tes hasil belajar yang diselenggarakan secara tertulis dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu tes hasil belajar bentuk uraian dan tes hasil belajar dalam bentuk objektif. Kedua testersebut memiliki karakteristik yang berbeda, sudah barang tentu teknik pemeriksaan hasilnya pun berbeda.

  1. Teknik Pemeriksaan Hasil Tes Hasil Belajar Bentuk Uraian

Dalam melaksanakan teknik pemeriksaan hasil tes hasil belajar bentuk uraian, sebelum melakukan pemeriksaan, sebaiknya tester segera membuat pedoman jawaban atas butir-butir soal yang telah disusun sebagai pegangan dalam pemeriksaan. pada saat pemeriksaan, tester membandingkan antara jawaban yang diberikan dengan pedoman yang sebelumnya disusun. Pedoman jawaban betul atas butir-butir soal yang telah disusun itulah yang selanjutnya akan digunakan sebagai pegangan atau patokan dalam pemeriksaan atau pengkoreksian terhadap hasil-hasil tes uraian. Sudah barang tentu, pemeriksaannya adalah dengan jalan membandingkan antara jawaban yang diberikan oleh testee dengan pedoman jawaban betul yang sebelumnya telah disusun oleh tester. Dalam pelaksanaan pemeriksaan hasil-hasil tes uraian ini ada dua hal yang perlu dipertimbangkan, yaitu: (1) apakah nantinya pengolahan dan penentuan nilai hasil tes uraian itu akan didasarkan pada standar mutlak, atau (2) apakah nantinya pengolahan dan penentuan nilai hasil tes subyektif itu akan didasarkan pada standar relatif.

Apabila nantinya pengolahan dan penentuan nilai hasil tes uraian itu akan didasarkan pada standar mutlak (dimana penentuan nilai secara mutlak akan didasarkan pada prestasi individual), maka prosedur pemeriksaannya adalah sebagai berikut:

  • Membaca setiap jawaban yang diberikan oleh testee untuk setiap butir soal tes uraian dan membandingkannya dengan pedoman jawaban betul yang sudah disiapkan.
  • Atas dasar hasil perbandingan antara jawaban testee dengan pedoman jawaban betul yang telah disiapkan itu, testee lalu memberikan skor untuk setiap butir soal dan menuliskannya di bagian kiri dari jawaban testee tersebut.
  • Menjumlahkan skor-skor yang telah diberikan kepada testee (yang nantinya akan dijadikan bahan dalam pengolahan dan penentuan nilai lebih lanjut).

Adapun apabila nantinya pengolahan dan penentuan nilai akan didasarkan pada standar relatif (di mana penentuan nilai akan didasarkan pada prestasi kelompok), maka prosedur pemeriksannya adalah sebagai berikut:

  • Memeriksa jawaban atas butir-butir soal nomor 1 yang diberikan olehj seluruh testee, sehingga diperoleh gambaran secara umum mengenai keseluruhan jawaban yang ada. Setelah pemeriksaan terhadap seluruh jawaban item nomor 1 dapat diselesaikan, maka tester akan menjadi tahu, testee manakah yang jawabannya termasuk lengkap, kurang lengkap, menyimpang, dan tidak memberikan jawaban sama sekali.
  • Memberikan skor terhadap jawaban soal nomor 1 untuk seluruh teste, misalnya untuk jawaban lengkap diberi skor 2, kurang lengkapdiberikan skor 1, dan yang menyimpang atau tidak memberikan jawaban sama sekali diberikan skor 0.
  • Setelah pemeriksan atas jawaban butir soal nomor 1 dari seluruh testee dapat diselesaikan, lalu dilanjutkan dengan pemeriksaan terhadap jawaban butir butir soal nomor 2, dengan cara yang sama.
  • Memberikan skor terhadap jawaban butir soal nomor 2 dari seluruh testee, dengan cara yang sama.
  • Setelah jawaban atas seluruh butir soal yang diberikan oleh seluruh testee dapat diselesaikan, akhirnya di lakukanlah penjumlahan skor (yang nantinya akan dijadiakan bahan dalam pengolahan dan penentuan nilai).
  1. Teknik Pemeriksaan Hasil Tes Hasil Belajar Bentuk Objektif

Dalam melakukan teknik pemeriksaan hasil tes hasil belajar bentuk objektif, adapun beberapa macam kunci jawaban yang dapat dipergunakan untuk mengkoreksi jawaban tes objektif yaitu kunci berdamping (strip keys),

Adapun cara menggunaannya adalah dengan meletakkan kunci jawaban tersebut berjajar dengan lembar jawaban yang diperiksa; kunci sistem karbon (carbon system keys), kunci jawaban ini diletakkan di atas lembaran karbon. Pada kunci jawaban telah dibubuhi tanda berupa lingkaran-lingkaran untuk setiap jawaban yang betul. Jawaban yang berada di dalam lingkaran adalah betul, dan jawaban yang berada di luar lingkaran adalah salah; kunci sistem tusukan (pinprick system keys), pada dasarnya kunci sistem tusukan sama dengan kunci system karbon. Letak perbedaannya ialah, kunci jawaban sistem tusukan ini, untuk jawaban yang benar diberi tusukan dengan jarum atau paku; kunci berjendela (window keys), kunci jawaban yang kosong dan telah dilubangi dengan pilihan yang betul kemudian kita letakkan di atas kunci jawaban. Melalui lubang-lubang tadi kita buat garis-garis vertikal. Jika garis mengenai tanda silang yang dibuat testee pada lembar jawaban, maka jawaban testee dianggap betul.

Memeriksa atau mengoreksi jawaban atas soal tes objektif pada umumnya dilakukan dengan jalan menggunakan kunci jawaban, ada beberapa macam kunci jawaban yang dapat dipergunakan untuk mengoreksi jawaban soal tes objektif, yaitu sebagai berikut :

 

  • Kunci berdampingan (strip keys)

Kunci jawaban berdamping ini terdiri dari jawaban – jawaban yang benar yang ditulis dalam satu kolom yang lurus dari atas kebawah, adapun cara menggunakannya adalah dengan meletakan kunci jawaban tersebut berjajar dengan lembar jawaban yang akan diperiksa, lalu cocokkan, apabila jawaban yang diberikan oleh teste benar maka diberi tanda (+) dan apabila salah diberi tanda (-).

  • Kunci system karbon (carbon system key)

Pada kunci jawaban system ini teste diminta membubuhkan tanda silang (X) pada salah satu jawaban yang mereka anggap benar kemudian kunci jawaban yang telah dibuat oleh teste tersebut diletakan diatas lembar jawaban teste yang sudah ditumpangi karbon kemudian tester memberikan lingkaran pada setiap jawaban yang benar sehingga ketika diangkat maka, dapat diketahui apabila jawaban teste yang berada diluar lingkaran berarti salah sedangkan yang berada didalam adalah benar.

  • Kunci system tusukan (panprick system key)

Pada dasarnya kunci system tusukan adalah sama dengan kunci system karbon. Letak perbedaannya ialahpada kunci sistem ini, untuk jawaban yang benar diberi tusukan dengan paku atau alat penusuk lainnya sementara lembar jawaban testee berada dibawahnya, sehingga tusukan tadi menembus lembar jawaban yang ada dibawahnya. Jawaban yang benar akan tekena tusukan dsedangkan yang salah tidak.

  • Kunci berjendela (window key)

Prosedur kunci berjendela ini adalah sebagai berikut :

  1. Ambilah blanko lembar jawaban yang masih kosong
  2. Pilihan jawaban yang benar dilubangi sehingga seolah – olah menyerupai jendela.
  3. Lembar jawaban teste diletakan dibawah kunci berjendela.
  4. Melalui lubang tersebut kita dapat membuat garis vertical dengan pencil warna sehingga jawaban yang terkena pencil warna tersebut berarti benar dan sebaliknya.
  • Teknik Pemeriksaan dalam Rangka Menilai Hasil Tes Lisan

Pemeriksaan atau koreksi yang dilaksanakan dalam rangka rangka menilai jawaban-jawaban testee pada tes hasil belajar secara lisan, pada umumnya cenderung bersifat subjektif. Hal ini kiranya mudah dipahami, sebab dalam tes lisan itu tester tidak berhadapan dengan lembar-lembar jawaban soal yang wujudnya adalah benda mati, melainkan berhadapan dengan individu-individu atau makhluk hidup yang masing-masing mempunyai ciriatau karakteristik berbeda-beda, sehingga peluang bagi tester untuk bertindak kurang atau bahkan tidak objektif.

Dalam melakukan teknik pemeriksaan dalam rangka menilai hasil tes lisan, pemeriksaan tehadap jawaban-jawaban testee hendaknya dikendalikan oleh pedoman yang pasti, misalnya:

  1. Kelengkapan jawaban yang diberikan oleh testee.

Pernyataan tersebut mengandung makna: apakah jawaban-jawaban yang diberikan oleh testee sudah memenuhi atau mencangkup semua unsur yang seharusnya ada, sesuai dengan pedoman jawaban betul yang telah disusun oleh tester.

  1. Kelancaran testee dalam memberiakn jawaban-jawaban.

Maksudnya: apakah dalam memberikan jawaban-jawaban lisan atau soal-soal (pertanyaan-pertanyaan) yang diajukan kepada teste itu cukup lancar sehingga mencerminkan tingkat kedalaman atau tingkat pemahaman testee terhadap materi pertanyaan yang diajukan kepadanya.

  1. Kebenaran jawaban yang diberikan.

Jawaban panjang lembar dan diemukakan secara lancar di hadapan tester, belum tentu merupakan jawaban yang benar. Karena itu tester harus benar-benar memperhatikan jawaban-jawaban testee tersebut, apakah jawaban testee itu mengandung kadar kebenaran yang tinggi atau sebaliknya.

  1. Kemampuan testee dalam mempertahankan pendapatnya.

Maksudnya, apakah jawaban yang diberikan testee itu diberikan dengan penuh keyakinan akan kebenarannya ataukah tidak. Jawaban lisan yang disampaikan denga nada ragu-ragu merupakan salah satu indikator bahwa testee kurang menguasai materi yang ditanyakan dalam tes lisan tersebut.

  1. berapa pesen kira-kira, pertanyaan lisan yang termasuk kategori sukar, sedang, dan mudah dapat dijawab dengan benar oleh testee.
  • Teknik Pemeriksaan dalam Rangka Menilai Hasil Tes Perbuatan

Jika pada tes tertulis pemeriksaan hasilnya dilakukan dengan membaca lembar-lembar jawaban testee, dan pada teslisan pemeriksaan itu dilakukan lewat jawaban-jawaban lisan yang diberikan oleh testee terhadap butir-butir soal atau pertanyaan yang diajukan secara lisan kepada mereka, maka tes perbuatan, “pemeriksaan” hasil-hasilnya dilakukan dengan menggunakan observasi (pengamatan).

Dalam teknik pemeriksaan dalam rangka menilai hasil tes perbuatan, pemeriksaan hasil-hasilnya dilakukan dengan mengggunakan pengamatan. Sasaran yang diamati adalah: tingkah laku, perbuatan, sikap dan sebagainya. Untuk dapat menilai hasil tes perbuatan itu diperlukan adanya instrument tertentu dan setiap gejala yang muncul deberi skor-skor tertentu pula.

  1. Teknik Pemberian Skor Hasil Tes Hasil Belajar

Cara pemberian skor pada umumnya disesuaikan dengan bentuk soal-soal yang dikeluarkan dalam tes tersebut.

  • Pemberian Skor pada Tes Uraian

Pada tes uraian, pemberian skor umumnya mendasarkan diri pada bobot yang diberikan untuk setiap butir soal, atas dasar tingkat kesukaran, atau atas dasar banyak sedikitnya unsur yang harus terdapat jawaban yang dianggap paling baik. Sebagai contoh dapat dikemukakan di sini misalnya tes subjektif mengidangkan lima butir soal. Pembuat soal telah menetapkan bahwa kelima butir soal itu mempunyai derajat kesukaran yang sama dan unsur-unsur yang terdapat pada setiap butir soal telah dibuat sama banyaknya. Atas dasar itu maka tester menetapkan bahwa testee yang dapat menjawab dengan jawaban paling betul (paling sempurna) diberikan skor 10. Jika hanya betul separuh diberikan skor 5, hamper seluruhnyabetul diberikan skor 9, dan seterusnya.

Dalam keadaan dimana butir-butir soal yang diajukan dalam bentuk tes uraian itu untuk tiap soal tidak memiliki derajat kesukaran yang sama, atau jumlah unsur yang terdapat pada setiap butir soal adalah tidak sama, maka pemberian skornya juga harus berpegang kepada derajat kesukaran dan jumlah unsur yang terdapat pada masing-masing butir soal tersebut.

  • Pemberian Skor pada Tes Objektif

Pada tes objektif, seriap item diberi skor maksimum 1, jika dijawab salah maka skornya 0. Adapun cara menhitung skor terakhir dari seluruh item bentuk true false, dapat dilakukan menggunakan dua macam rumus, yaitu: rumus yang memperhitungkan denda, dan rumus yang mengabaikan denda. Penggunaan rumus-rumus itu sepenuhnya diserahkan kepada kebijaksanaan testee, apakah dalam tes hasil belajar tersebut kepada testee akan dikenai denda (bagi jawaban yang salah), ataukah tidak. Rumus skor akhir dengan memperhitungkan denda adalah sebagai berikut:

S = Adapun rumus skor akhir yang tidak memperhitungkan denda adalah sebagai berikut:

S = R

dimana:

S = skor yang sedang dicari

R = jumlah jawaban betul

W = jumlah jawaban yang salah

O = kemungkinan jawaban

1 = bilangan konstan.

Contoh:

Dalam tes hasil belajar bidang studi Matematika yang diikuti oeh 40 orang siswa diajukan 80 butir item tes objektif; 20 butir diantaranya adalah tes objektif bentuk true-false, dengan ketentuan bahwa untuk setiap butir item yang dijawab betul diberikan bobot 1 dan untuk setiap butir item yang dijawab salah diberikan bobot 0.

dalam tes tersebut seorang siswa bernama Budi dapat menjawab dengan betul sebanyak 15 butir item (R = 15); berarti jawaban yang slah = 20 – 15 = 5 (W = 5); sedangkan optionnya = 2 (0 = 2).

Apabila tehadap jawaban salah satu itu dikenal sanksi berupa denda, maka skor akhir yang diberikan kepada Budi adalah:

S =  10

Sedangkan apabila terhadap jawaban salah itu tidak dikenakan sanksi berupa denda, maka skor yang diberikan kepada Budi itu adalah:

S = R = 15

Untuk tes objektif bentuk mathing, fill in dan completion, perhitungan skor akhir pada umumnya tidak memperhitungkan sanksi berupa denda, sehingga rumus yang digunakan adalah:

S = R

Dengan kata lain, skor yang diberikan kepada testee adalah sama dengan jumlah jawaban betulnya.

  1. Teknik Pengolahan dan Pengubahan Skor Tes Hasil Belajar Menjadi Nilai

Selanjutnya setelah dapat melakukan pemberian skor terhadap tes hasil belajar siswa, perlu juga diperhatikan teknik pengolahan dan pengubahan skor tes hasil belajar menjadi nilai.

  • Perbedaan Skor dan Nilai

Sebelum sampai pada pembicaraan tentang teknik pengolahan dan pengubahan (konvensi) skor mentah hasil tes hasil belajar menadi nilai standar, perlu dijelaskan terlebih dahulu tentang perbedaan antara skor dan nilai. Hal ini didasarkan pada pertimbangan bahwa kadang-kadang orang menganggap bahwa skor itu mempunyai pengertian yang sama dengan nilai; padahal pengertian seperti itu belum tentu benar. Skor adalahhasil pekerjaan menyekor yang diperoleh dengan jalan menjumlahkan angka-angka bagi setiap butir item yang oleh testee telah dijawab dengan betul, dengan memperhatikan bobot jawaban betulnya. Adapun yang dimaksud dengan nilai adalah angka (bias juga huruf), yang merupakan hasil ubahan dari skor yang sudah dijadikan satu dengan skor-skor lainnya, serta disesuaikan pengaturannya dengan standar tertentu. Itulah mengapa nilai sering disebut skor standar.

Misalkan tes hasil belajar dalam bidang studi bahasa Indonesia menyajikan lima butir soal tes uraian di mana untuk setiap butir soal yang dijawab dengan betul diberikan bobot 10. Siswa bernama Budi, untuk kelima butir soal tes uraian tersebut memberikan jawaban sebagai berikut:

  • Untuk butir soal nomor 1 dapat dijawab dengan sempurna, sehingga kepadanya diberikan skor 10.
  • Untuk butir soal nomor 2 hanya dijawab betul separuhnya, sehingga skor yang diberikan kepada siswa tersebut adalah 5.
  • Untuk butir soal nomor 3, hanya sekitar seperempat bagian saja yang dapat dijawab dengan betul, sehingga diberikan skor 2,5.
  • Untuk butir soal nomor 4, dijawab betul sekitar separuhnya, sehingga diberikan skor 5.
  • Untuk butir soal nomor 5, dijawab betul sekitar tiga perempatnya, sehingga diberikan skor 7,5.

Dengan demikian untuk kelima butir soal tes uraian tersebut siswa bernama Budi tersebut mendapatkan skor sebesar = 10 + 5 + 2,5 + 5 + 7,5 = 30. Angka 30 disini belum dapat disebut nilai, sebab angka 30 itu masih merupakan skor mentah (raw score), yang untuk dapat disebut nilai masih memerlukan pengolahan atau pengubahan (= konversi).

  • Pengolahan dan Pengubahan Skor Mentah Hasil Tes Hasil Belajar Menjadi Nilai Standar

Ada dua hal penting yang perlu dipahami terlebih dahulu dalam pengolahan dan pengubahan skor mentah menjadi skor standar atau nilai. Penilaian nilai dengan menggunakan standar relatif ini sangat cocok untuk diterapkan pada tes-tes sumatif (ulangan umum, ujian akhir semester, atau yang setara itu), sebab dipandang lebih adil, wajar, dan bersifat manusiawi

Pertama-tama harus dipahami bahwa penilaian beracuan kriterium ini mendasarkan pada asumsi, bahwa:

  1. Hal yang harus dipelajari oleh testee adalah mempunyai struktur hierakis tertentu, dan bahwa masing-masing taraf tertentu harus dikuasai secara baik sebelum testee tadi maju sampai taraf selanjutnya.
  2. Evaluator atau taster dapat mengidentifikasi masing-masing taraf itu sampai tuntas, atau setidak-tidaknya mendekati tuntas, sehingga dapat disusun alat pengukurnya.

Apabila dalam penentuan nilai tes hasil belajar itu digunakan acuan kriterium (menggunakan PAP), maka hal ini mengandung arti bahwa nilai yang akan diberikan kepada testee itu harus didasarkan pada standar mutlak, artinya, pemberian nilai kepada testee itu dilaksanakan dengan jalan membandingkan antara skor mentah hasil tes yang dimiliki oleh masing-masing individu testee, dengan skor maksimum ideal (SMI) yang mungkin dapat dicapai oleh testee kalu saja seluruh soal tes dapat dijawab dengan betul.

Karena itu maka pada penentuan nilai yang mengacu kepada kriterium atau patoakn ini, tinggi rendahnya atau besar kecilnya nilai yang diberikan kepada masing-masing individu testee, mutlak ditentukan oleh besar kecil atau tinggi rendahnya skor yang dapat dicapai oleh masing-masing testee yang bersangkutan. Itulah sebabnya mengapa penentuan nilai dengan mengacu pada kriterium sering disebut sebagai penentuan nila secara individual.

Disamping itu, karena penentuan nilai seorang testee dilakukan dengan jalan membandingkan skor mentah hasil belajar dengan skor maksimum idealnya, maka penentuan nilai yang beracuan pada kriterium ini juga sering dikenal dengan istilah penentuan nilai secara teoritik, atau penentuan nilai secara das sollen. Dengan istilah teoritik dimaksudkan disini adalah bahwa secara teoritik seorang siswa berhasil mendapatkan nilai 100 misalnya apabila keseluruhan butir soal tes dapat dijawab dengan betul oleh siswa tersebut.

Penialian beracuan patokan (PAP) ini sangat baik diterapkan pada tes-tes formatif, dimana tester (guru,dosen, dan lain-lain) ingin mengetahui sudah sampai sejauh manakah peserta didiknya sudah terbentuk setelah mereka mengikuti program pengajaran dalam jangka waktu tertentu, dengan menggunakan criterion referenced evaluation dimana guru atau dosen dapat mengetahui berapa orang siswa atau mahasiswa yang tingkat penguasaannya tinggi, cukup, rendah, maka guru atau dosen tersebut dapat melakukan upaya-upaya yang dipandang perlu agar tujuan pengajaran dapat tercapai dengan optimal.

  • Pengolahan Dan Pengubahan Skor Mentah Hasil Tes Hasil Belajar Menjadi Nilai Standar Dengan Mendasarkan Diri Atau Mengacu Pada Norma Tau Kelompok.

Penilaian beracuan norma atau penilaian beracuan kelompok ini sering dikenal dengan istilah penentuan nilai secara relative, atau penilaian dengan mendasarkan diri pada standar relative. Dikatakan demikian, sebab dalam penentuan nilai hasil tes, skor mentah hasil tes yang dicapai oleh seorang peserta tes diperbandingkan dengan skor mentah hasil tes yang dicapai oleh peserta oleh peserta tes yang lain, sehingga kualitas yangdimiliki oleh seorang peserta tes akan sangat tergantung kepada atau sangat ditentukan oleh kualitas kelompoknya.

Peniaian acuan norma diistilahkan dengan penentuan nilai secara empiris, penentuan nilai secara aktual atau penentuan nilai secara bas sein.

Dikatakan penentuan nilai secara aktual sebab didasarkan pada distribusi skor yang secara aktual yang dicapai oleh testee dalam suatu test belajar. Dikatakan penentuan nilai secara empiris karena penentuan nilai dilakukan dengan menperhatian hasil-hasil test secara empiris yaitu skor hasil test berdasarkan pengamatan praktek dilapangan. Penetuan nilai berdasarkan standar relatif sangat cocok diterapkan pada tes-tes somatif sebab dipandang lebih adil, wajar dan manusiawi.

Penilaian beracuan pada kelompok ini mendasarkan diri pada asumsi sebagai berikut:

  1. Pada setiap poulasi peserta didik yang sifatnya heterogen, akan selalu didapati kelompok baik/tinggi, kelompok sedang/tengah, dan kelomok kurang/rendah.
  2. Bahwa tujuan evaluasi hasil belajar adalah untuk menentukan posisi relatif dari para peserta tes

dalam hal yang sedang dievaluasi itu, yaitu apakah peserta tes posisi relatifnya berada di atas, di tengah, ataukah dibawah.

Dalam pembicaraan yang berhubungan dengan nilai standar kiranya perlu diketahui bahwa dalam dunia evaluasi pendidikan, khususnya evaluasi hasil belajar dikenal berbagai jenis nilai standar, seperti:

  1. Pengubahan Skor Mentah Hasil Tes Menjadi Nilai Standar Berskala Lima (Stanfive)

Nilai standar berskala lima ,yang sering dikenal dengan istilah nilai huruf , yaitu nilai, A ,B ,C ,D , dan E. Pengubahan skor mentah hasil tes menjadi nilai standar berskala lima atau nilai huruf ,menggunakan patokan sebagai berikut :

Mean + 1,5 SD = A

Mean + 0,5SD = B

Mean – 0.5 SD = C

Mean – 1,5 SD = E

  1. Pengubahan Skor Mentah Hasil Tes Menjadi Nilai Standar T(T Score )

Dimaksud dengan T score adalah angka skala yang menggunakan mean sabesar 50 (M=50) dan standar deviasi sebesar 10 ( SD=10 ). T skor dapat di peroleh dengan jalan memperkalikan z score dengan angka 10 kemudian ditambah dengan 50.T score dicari dengan maksud untuk meniadakan tanda minus yang terdapat di depan nilai standar z.

T score = 10z + 50 atau

T score = 50 + 10z

T score dicari atau dihitung dengan maksud untuk meniadakan tanda minus yang terdapat di depan nilai standar z, sehingga lebih mudah dipahami oleh mereka yang masih asing atau awam terhadap ukuran-ukuran statistik.

  1. Format Penilaian Tes
  2. Penilaian Portofolio

Merupakan proses penilaian yang berkelanjutan yang didasarkan pada kumpulan informasi yang menunjukkan perkembangan kemampuan peserta didik dalam satu periode tertentu.

Penggunaan portofolio untuk penilaian juga bermanfaat, karena hal-hal berikut:

  • Portofolio menyajikan atau memberikan: “bukti” yang lebih jelas atau lebih lengkap tentang kinerja siswa daripada hasil tes di kelas.
  • Portofolio dapat merupakan catatan penilaian yang sesuai dengan program pembelajaran yang baik.
  • Portofolio merupakan catatan jangka panjang tentang kemajuan siswa.
  • Portofolio memberikan gambaran tentang kemampuan siswa.
  • Penggunaan portofolio penilaian memberikan kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan keunggulan dirinya, bukan kekurangan atau kesalahannya dalam mengerjakan soal atau tugas.
  • Penggunaan portofolio penilaian mencerminkan pengakuan atau bervariasinya gaya belajar siswa.
  • Portofolio memberikan kesempatan kepada siswa untuk berperan aktif dalam penilaian hasil belajar.
  • Portofolio membantu guru dalam menilai kemajuan siswa.
  • Portofolio membantu guru dalam mengambil keputusan tentang pembelajaran atau perbaikan pembelajaran.
  • Portofolio merupakan bahan yang relatif lengkap untuk berdiskusi dengan orang tua siswa, tentang perkembangan siswa yang bersangkutan.
  • Portofolio membantu pihak luar untuk menilai program pembelajaran yang bersangkutan

Contoh Format Penilaian Portofolio :

Mata Pelajaran        :

Kelas / Semester     :

No. Nama Siswa Nilai Jumlah Rata-rata Ket
Tugas Harian UTS UAS
1.
2.
3.
4.
5.

 

  1. Penilaian Unjuk Kerja

Penilaian unjuk kerja merupakan penilaian yang dilakukan dengan mengamati kegiatan peserta didik dalam melakukan sesuatu. Penilaian ini cocok digunakan untuk menilai ketercapaian kompetensi yang menuntut peserta didik melakukan tugas tertentu seperti: praktek di laboratorium, praktek sholat, praktek OR, presentasi, diskusi, bermain peran, memainkan alat musik, bernyanyi, membaca puisi/ deklamasi dll. Cara penilaian ini dianggap lebih otentik daripada tes tertulis karena apa yang dinilai lebih mencerminkan kemampuan peserta didik yang sebenarnya.

Contoh Format Penilaian Unjuk Kerja :

Mata Pelajaran        : Penjaskes

Materi                     : Lompat Jauh

Kelas / Semester     :

No. Nama Siswa Aspek yang dinilai Jumlah skor
Teknik Awalan Teknik Tumpuan Sikap/posisi tubuh saat di udara Teknik Mendarat
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1.
2.
3.
4.
5.

Skor maksimal : 10 x 4 = 40

Nilai =

Kriteria Penilaian:

1 = Sangat bagus

2 = Bagus

3 = Cukup bagus

4 = Cukup

 

 

 

 

  1. Penilaian Sikap

Sikap bermula dari perasaan (suka atau tidak suka) yang terkait dengan kecenderungan seseorang dalam merespon sesuatu/objek. Sikap juga sebagai ekspresi dari nilai-nilai atau pandangan hidup yang dimiliki oleh seseorang. Sikap dapat dibentuk, sehingga terjadi perilaku atau tindakan yang diinginkan.

Sikap terdiri dari tiga komponen, yakni: afektif, kognitif, dan konatif. Komponen afektif adalah perasaan yang dimiliki oleh seseorang atau penilaiannya terhadap sesuatu objek. Komponen kognitif adalah kepercayaan atau keyakinan seseorang mengenai objek. Adapun komponen konatif adalah kecenderungan untuk berperilaku atau berbuat dengan cara-cara tertentu berkenaan dengan kehadiran objek sikap.

Contoh Format Penilaian Sikap :

Mata Pelajaran        :

Kelas / Semester     :

No. Nama Siswa Sikap yang dinilai Jumlah skor
Kedisi-plinan Kejujuran Tanggung Jawab Kerjasa-ma
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1.
2.
3.
4.
5.

Kriteria Penilaian:

1      = Sangat baik

2      = Baik

3      = Cukup

4      = Kurang

 

 

  1. Penilaian Proyek

Penilaian proyek merupakan kegiatan penilaian terhadap suatu tugas yang harus diselesaikan dalam periode/waktu tertentu. Tugas tersebut berupa suatu investigasi sejak dari perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan dan penyajian data. Penilaian proyek dapat digunakan untuk mengetahui pemahaman, kemampuan mengaplikasikan, kemampuan penyelidikan dan kemampuan menginformasikan peserta didik pada mata pelajaran tertentu secara jelas. Dalam penilaian proyek setidaknya ada 3 (tiga) hal yang perlu dipertimbangkan yaitu:

  • Kemampuan pengelolaan

Kemampuan peserta didik dalam memilih topik, mencari informasi dan mengelola waktu pengumpulan data serta penulisan laporan.

  • Relevansi

Kesesuaian dengan mata pelajaran, dengan mempertimbangkan tahap pengetahuan, pemahaman dan keterampilan dalam pembelajaran.

  • Keaslian

Proyek yang dilakukan peserta didik harus merupakan hasil karyanya, dengan mempertimbangkan kontribusi guru berupa petunjuk dan dukungan terhadap proyek peserta didik

Contoh Format Penilaian Proyek :

Mata Pelajaran          :

Kelas / Semester       :

Nama Proyek            :

Nama Kelompok       :

No. Aspek yang dinilai Skor
1 2 3 4
1. Perencanaan

·      Penyiapan alat dan bahan

·      Menentukan objek

2. Pelaksanaan

·      Kerjasama

·      Konsultasi

·      Pencatatan data

3. Pelaporan

·      Sistematis laporan

·      Kaidah bahasa

Total Skor

Kriteria Penilaian :

1      = Sangat baik

2      = Baik

3      = Cukup

4      = Kurang

Contoh Penilaian Sikap Dalam Pembelajaran IPA :

Kadang kita membutuhkan nilai- nilai yang bukan kognitif dalam pembelajaran IPA, agar siswa juga mengargai sikap maka diperlukan penilaian kinerja sikap . Penilaian sikap ini dapat kita laksanakan saat siswa penilaian dan kriteria penilaian adalah sebagai berikut

Penilaian Sikap

Judul Kegiatan : Percobaan Mengidentifikasi Asam dan Basa
Mata pelajaran : IPA
Kelas : VII/II
SK : 2.Memahami Klasifikasi Zat
KD : 2.2. Melakukan percobaan sederhana dengan bahan-bahan yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari
Nama siswa : ______________________________
Kelas : ______________________________
Waktu pengamatan : ______________________________

 

No Aspek yang diamati Skor Jumlah skor
3 2 1
1. Kerja sama 3
2. Kedisiplinan 2
3. Ketelitian 2
4. Tanggung jawab 3
Total skor yang di capai 10
Jumlah Skor maksimum 12

 

No Kriteria Skor (1-3)
1 Kerjasama

Aktif kerjasama dengan baik dengan temannya

·Kadang bekerja sama kadang tidak bekerja sama

·Tidak mau kerjasama

 

3

2

1

2 Kedisiplinan

·Masuk laboratorium tepat waktu

·Terlambat kurang dari 5 menit

·Terlambat lebih dari 5 menit

3

2

1

3 Ketelitian

·Teliti menggunakan alat dan teliti dalam pengumpulan datanya

·Teliti dalam menggunakan alat namun tidak teliti dalam pengumpulan datanya

·Tidak teliti menggunakan alat dan tidak letiti mengumpulkan datanya

3

2

1

4 Tanggung Jawab

·Mengerjakan tugas dengan baik dan tepat waktu

·Mengerjakan tugas dan hasil kurang baik namun tepat waktu

·Tidak mengerjakan tugas

 

3

2

1


DAFTAR PUSTAKA

Daryanto. 2001. Evaluasi pendidikan. Jakarta: PT Asdi Mahasatya

Sudjana, Nana.1989. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Sudijono. Anas. 2007. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Thoha. M. Chabib. 2001. Teknik Evaluasi pendidikan. Jakarta ; PT. Raja Grafindo Persada.

Uno. Hamzah. 2012. Assessment Pembelajaran. Jakarta : Bumi aksara