Laporan Praktikum Sifat Koligatif Larutan

Laporan Praktikum Sifat Koligatif Larutan

Download Laporan Praktikum Sifat Koligatif Larutan dalam format word (.doc) agar mudah dibaca dan tertata rapi lengkap.

Google Drive Mirror (Zippyshare, Mediafire, Openload)

  1. TUJUAN PERCOBAAN
  2. Mengetahui terjadinya peristiwa difusi.
  3. Mengetahui kelarutan zat terlarut pada pelarut Polar dan pelarut non-polar.
  4. Mengetahui pengaruh suhu pada kelarutan zat terlarut.
  5. Mengetahui titik didih beberapa larutan.
  6. Mengetahui harga faktor van’t Hoff.
  7. DASAR TEORI

Difusi adalah peristiwa berpindahnya suatu zat dalam pelarut dari bagian yang berkonsentrasi tinggi ke bagian yang berkonsentrasi rendah sehingga mencapai titik kesetimbangan, dimana molekul-molekul dalam pelarut bebas bergerak tanpa mengubah konsentrasi akhir larutan.

Kelarutan yaitu jumlah maksimum zat terlarut yang dapat larut pada suatu pelarut pada suhu tertentu, dimana suhu mempengaruhi kelarutan zat terlarut. Untuk kelarutan zat padat dan zat cair dalam cairan, semakin tinggi suhu, maka kelarutan zat terlarut dalam suatu pelarut semakin besar. Tetapi untuk kelarutan gas pada zat cair berbeda, semakin tinggi suhu, maka kelarutannya semakin berkurang.

Sifat koligatif yaitu sifat larutan yang hanya bergantung pada jumlah zatnya, dan tidak bergantung pada jenis zat tersebut. Yang disebut sebagai sifat koligatif yaitu penurunan tekanan uap, kenaikan titik didih, penurunan titik beku, dan tekanan osmotik.

Untuk kenaikan titik didih larutan nonelektrolit, berlaku:

Dimana Td adalah titik didih larutan dan T°d adalah titik didih pelarut murni. Karena  berbanding lurus dengan penurunan tekanan uap, maka kenaikan titik didih juga berbanding lurus dengan konsentrasi (molalitas) larutan. Dengan kata lain,

Dimana m adalah moralitas larutan dan Kd adalah konstanta kenaikan titik didih molal. Satuan Kd adalah °C/m

Sifat koligatif elektrolit memerlukan pendekatan yang sedikit berbeda daripada yang digunakan untuk sifat koligatif nonelektrolit. Alasannya adalah karena elektrolit terurai menjadi ion-ion dalam larutan, dan dengan demikian satu satuan senyawa elektrolit terpisah menjadi dua atau lebih partikel bila dilarutkan. Hal inilah yang menyebabkan sifat koligatif elektrolit lebih besar dibandingkan sifat koligatif nonelektrolit.

  1. ALAT DAN BAHAN
  2. Alat

 

  1. Gelas beker 1 buah
  2. Pipet tetes 1 buah
  3. Tabung reaksi 8 buah
  4. Spatula 1 buah
  5. Pembakar bunsen 1 buah
  6. Kaki tiga 1 buah
  7. Kawat kasa 1 buah
  8. Termometer 1 buah
  9. Neraca analitik 1 buah
  10. Pengaduk gelas 1 buah
  11. Bahan

 

  1. Aquades
  2. K2SO4
  3. C6H14
  4. NaCl
  5. CaCl2.2H2O
  6. C11H22O11
  7. C10H8
  8. K2SO4
  9. Na2SO4
  10. KCl
  11. KNO3

 

  1. CARA KERJA
  2. Difusi
  3. Mengisi gelas beker dengan aquades, lalu mendiamkan supaya permukaan aquades diam dan tenang.
  4. Meneteskan larutan K2CrO4 yang berwarna kuning ke dalam aquades lalu mengamati perubahan larutan.
  5. Kelarutan
  6. Memasukkan masing-masing 1 mL aquades ke dalam 6 tabung reaksi.
  7. Memasukkan masing-masing 1 mL heksana ke dalam 6 tabung reaksi.
  8. Memasangkan ke-6 tabung reaksi, yang satu berisi aquades dan yang lainnya berisi heksana, sehingga menjadi 6 pasang.
  9. Memasukkan NaCl sebanyak 0,1 gram ke dalam sepasang tabung reaksi, lalu menggoyangnya dengan tangan.
  10. Memasukkan 0,1 gram CaCl2.2H2O ke dalam sepasang tabung reaksi, lalu menggoyangkannya dengan tangan.
  11. Memasukkan 0,1 gram C11H22O11 ke dalam sepasang tabung reaksi, lalu menggoyangkannya dengan tangan.
  12. Memasukkan 0,1 gram C10H8 ke dalam sepasang tabung reaksi, lalu menggoyangkannya dengan tangan.
  13. Mengamati apa yang terjadi pada masing-masing tabung reaksi.
  14. Efek suhu pada kelarutan
  15. Mengisi gelas beker dengan 50 mL aquades, lalu memanaskannya.
  16. Memasukkan termometer ke dalam tabung reaksi.
  17. Memasukkan 2 gram K2SO4 ke dalam tabung reaksi.
  18. Memasukkan 7 gram Na2SO4 ke dalam tabung reaksi.
  19. Memasukkan 5 gram KCl ke dalam tabung reaksi.
  20. Menghentikan pemanasan aquades ketika suhu mencapai 39 °C.
  21. Menambahkan 10 mL aquades hangat ke dalam masing-masing tabung reaksi, lalu menggoyangkannya dengan tangan.
  22. Mengamati padatan yang tersisa.
  23. Melanjutkan pemanasan aquades, lalu menghentikannya ketika suhu mencapai 68 °C.
  24. Memasukkan ketiga tabung reaksi ke dalam aquades hangat tersebut, kemudian mengaduknya dengan pengaduk gelas.
  25. Mengamati padatan yang tersisa.
  26. Memanaskan aquades hingga suhu mencapai 81 °C, lalu menghentikan pemanasan.
  27. Mengaduk larutan di dalam tabung reaksi dengan pengaduk gelas.
  28. Mengamati padatan yang tersisa pada tabung reaksi.
  29. Sifat koligatif
  30. Mengambil 10,1 gram KNO3, lalu memasukkan ke dalam gelas beker.
  31. Mengambil 10 mL air, lalu memasukkan ke dalam gelas beker yang berisi KNO3, kemudian mengaduknya dengan pengaduk gelas.
  32. Memanaskan larutan tersebut hingga mendidih.
  33. Mencatat suhu larutan ketika pertama kali mendidih.
  34. Mengambil 19,2 gram C11H22O11, lalu memasukkan ke dalam gelas beker.
  35. Mengambil 10 mL air, lalu memasukkan ke dalam gelas beker yang berisi C11H22O11, kemudian mengaduknya dengan pengaduk gelas.
  36. Memanaskan larutan tersebut hingga mendidih.
  37. Mencatat suhu larutan ketika pertama kali mendidih.
  38. Menghitung faktor van’t Hoff masing-masing larutan.
  39. HASIL PENGAMATAN
  40. Difusi
Bahan Ciri fisik Perlakuan Pengamatan
Mula-mula Setelah 1 menit
K2CrO4 Cairan kuning transparan Diberi 10 tetes air K2CrO4 menyebar secara merata ke seluruh permukaan air Larutan membentuk 2 fasa dan terlihat lebih pekat di bagian bawah. Bagian atas larutan berwarna bening, sedangkan larutan bagian bawah berwarna kuning transparan
  1. Kelarutan
Bahan Ciri fisik Dilarutkan dalam Pengamatan
Mula-mula Setelah diagitasi
NaCl Serbuk putih seperti kristal Satu mL air Belum larut Larut, berwarna bening
Satu mL heksana Belum larut Tidak larut, solvent dan solut tetap berwarna putih
CaCl2. 2H2O Serbuk putih seperti kristal Satu mL air Belum larut Larut, berwarna bening
Satu mL heksana Belum larut Tidak larut, solut dan solvent tetap berwarna putih
C12H22O11 Serbuk putih kecoklatan Satu mL air Belum larut Larut, berwarna putih kecoklatan
Satu mL heksana Belum larut Tidak larut, solven dan solut tetap berwarna putih
C10H8 Serbuk putih seperti kristal Satu mL air Belum larut Tidak larut, solut dan solven tetap berwarna putih
Satu mL heksana Belum larut Larut, berwarna bening
  1. Efek suhu pada kelarutan
Bahan Ciri fisik Perlakuan Suhu Tinggi endapan Keterangan
K2SO4 Serbuk berwarna putih Dilarutkan dalam 10 mLair, kemudian dipanaskan. Pada suhu 39 °C, 65 °C, dan 81 °C,dilakukan penghentian pemanasan dan dilakukan agitasi 39 °C 3 cm Warna larutan dan zat terlarut tetap putih
65 °C 2 cm
81 °C 1 cm
Na2SO4 Serbuk berwarna putih 39 °C 6 cm Warna larutan dan zat terlarut tetap putih
65 °C 5 cm
81 °C 2,5 cm
KCl Serbuk berwarna putih 39 °C 7 cm Warna larutan dan zat terlarut tetap putih
65 °C 3,5 cm
81 °C 2 cm
  1. Sifat koligatif
Bahan Ciri fisik Perlakuan Suhu mendidih Keterangan
KNO3 Padatan putih Dilarutkan dalam 10 mL aquades kemudian dipanaskan 101 °C Padatan melarut seluruhnya ketika mendidih
C12H22O11 Padatan putih kecoklatan 101 °C
  1. Perhitungan

Molalitas KNO3:

Faktor van’t Hoff KNO3:

  1. Reaksi:
  2. Difusi:

K2CrO4(aq)+2H2O(l)→H2CrO4(aq)+2KOH(aq)

  1. Kelarutan:

NaCl(s)+H2O(l)→HCl(aq)+NaOH(aq)

CaCl2.2H2O(s)+2H2O(l)→2HCl(aq)+CaOH(aq)+2H2O(l)

C12H22O11(s)+H2O(l)→C6H12O6(aq)+ C6H12O6(aq)

C10H8(aq)+C6H14(l)→2C8H8(aq)+3H2(g)

  1. Efek suhu pada kelarutan:

K2SO4(s)+2H2O(l)→H2SO4(aq)+2KOH(aq)

Na2SO4(s)+2H2O(l)→H2SO4(aq)+2NaOH(aq)

KCl(s)+H2O(l)→HCl(aq)+KOH(aq)

  1. Sifat koligatif:

KNO3(s)+H2O(l)→HNO3(aq)+KOH(aq)

C12H22O11(s)+H2O(l)→C6H12O6(aq)+ C6H12O6(aq)

  1. PEMBAHASAN
  2. AHMAD HANIF FAHRUDY

Praktikum kali ini mempelajari tentang difusi, kelarutan, efek suhu pada kelarutan, dan sifat koligatif larutan. Percobaan pertama yaitu tentang proses difusi.

Untuk mempelajari proses difusi, kami menggunakan aquades sebagai pelarut dan senyawa K2CrO4. Mula-mula air sebagai pelarut diletakkan di tempat yang datar dan tenang dari guncangan. Setelah permukaan air terlihat tenang, kami memberi 10 tetes K2CrO4. Setelah kami menetesi dengan K2CrO4 yang berwarna kuning transparan, solut tersebut menyebar ke seluruh permukaan air, sehingga air menjadi kuning transparan seluruhnya. Beberapa detik berlalu, permukaan larutan menjadi terlihat lebih kuning pada bagian dasar gelas beker, sedangkan bagian atas menjadi bening (terbentuk 2 fasa).

Peristiwa di atas telah menjelaskan tentang difusi, yaitu peristiwa berpindahnya suatu zat dalam pelarut dari bagian yang berkonsentrasi tinggi ke bagian yang berkonsentrasi rendah sehingga mencapai titik kesetimbangan, dimana molekul-molekul dalam pelarut bebas bergerak tanpa mengubah konsentrasi akhir larutan. Meskipun terbentuk 2 fasa pada percobaan tersebut, proses pembentukan 2 fasa tersebut tidak termasuk peristiwa difusi, karena dari hasil pengamatan terlihat bahwa larutan bagian bawah lebih pekat dan lebih berwarna dibandingkan larutan bagian atas.

Percobaan yang kedua yaitu tentang kelarutan zat terlarut pada pelarut Polar dan pelarut non-polar. Pelarut Polar yang kami gunakan yaitu air murni (H2O), sedangkan pelarut non-polar yang kami gunakan yaitu heksana (C6H14).

Senyawa yang kami gunakan untuk mengetahui kelarutan zat terlarut yaitu Natrium klorida (NaCl), Kalsium klorida dihidrat (CaCl2.2H2O), gula pasir (C12H22O11), dan Naftalena (C10H8).

Pertama, kami melarutkan Natrium klorida ke dalam air dan heksana. Tetapi, hanya air yang dapat melarutkan Natrium klorida. Natrium klorida adalah senyawa ionik, sehingga apabila terlarut dalam air menghasilkan 2 ion, yaitu Na+ dan Cl. Senyawa Natrium hidroksida dapat larut dalam larutan Polar meskipun bukan termasuk senyawa Polar. Ini disebabkan karena senyawa Natrium klorida merupakan senyawa elektrolit yang menghasilkan ion-ion dalam larutan. Ion-ion tersebut mengalami proses solvasi karena ion-ion tersebut dikelilingi oleh molekul pelarut yang memiliki susunan tertentu. Dalam air, reaksi ini menghasilkan produk berupa Asam klorida (HCl), dan Natrium hidroksida (NaOH). Senyawa NaCl tidak dapat larut dalam heksana karena bukan merupakan larutan yang sejenis, sehingga lebih susah larut.

Kedua, kami melarutkan Kalsium klorida dihidrat (CaCl2.2H2O) ke dalam air dan heksana. Hasilnya, Kalsium klorida dihidrat dapat larut dalam air, tetapi tidak dapat larut dalam heksana. Ini disebabkan karena senyawa CaCl2.2H2O merupakan senyawa ionik dan juga senyawa elektrolit sebagaimana senyawa Natrium klorida. CaCl2.2H2O yang terlarut dalam air menghasilkan 3 ion, yaitu 1 ion Ca2+ dan 2 ion Cl. Ion-ion dari senyawa CaCl2.2H2O juga mengalami solvasi sebagaimana NaCl. Produk yang dihasilkan dari reaksi ini yaitu Asam klorida (HCl), Kalsium hidroksida (CaOH), dan air (H2O). Kalsium klorida dihidrat tidak dapat larut dalam heksana karena bukan merupakan larutan sejenis, sehingga lebih susah larut.

Yang ketiga yaitu gula pasir yang dilarutkan dalam air dan heksana. Gula pasir atau sukrosa (C12H22O11) dapat larut dalam air, tetapi tidak dapat larut dalam heksana. Gula pasir merupakan senyawa kovalen Polar, karena tidak dapat larut dalam pelarut non-polar seperti heksana. Dalam air, reaksi ini menghasilkan produk berupa glukosa dan fruktosa dalam bentuk larutan.

Reaksi yang keempat yaitu naftalena yang dilarutkan dalam air dan heksana. Berdasarkan hal pengamatan kami, naftalena tidak larut dalam air, tetapi larut dalam heksana. Ini disebabkan karena naftalena merupakan senyawa yang berikatan kovalen non-polar, sehingga lebih mudah larut dalam pelarut non-polar. Dalam heksana, reaksi ini menghasilkan produk berupa larutan benzena dan gas hidrogen.

Percobaan selanjutnya yaitu mengenai efek suhu pada kelarutan zat terlarut. Kami menggunakan senyawa ionik seperti Kalium sulfat (K2SO4), Natrium sulfat (Na2SO4), dan Kalium klorida (KCl) sebagai bahan percobaan, sedangkan pelarut yang kami gunakan yaitu air.

Dua gram Kalium sulfat, 7 gram Natrium sulfat, maupun 5 gram Kalium klorida setelah dilarutkan dalam 10 mL air pada suhu 39 °C dan diaduk, padatan masih belum terlarut seluruhnya. Ketika larutan tersebut dipanaskan hingga suhu mencapai 65 °C dan diaduk, padatan yang tersisa tadi belum sepenuhnya melarut, tetapi telah terjadi pengurangan padatan. Ketika dipanaskan lagi hingga suhu 81 °C, terjadi pengurangan padatan dengan selisih yang cukup besar bila dibandingkan dengan padatan yang tersisa ketika sebelum dipanaskan. Ini menunjukkan bahwa semakin tinggi suhu larutan, maka kelarutan zat terlarut akan semakin besar, karena dengan bertambahnya suhu, ion-ion dalam larutan semakin mudah bertumbukan, sehingga ion-ion zat terlarut mengalami solvasi dengan molekul-molekul air.

Percobaan yang terakhir yaitu tentang sifat koligatif larutan. Disini kami mempelajari sifat koligatif tentang kenaikan titik didih larutan. Senyawa yang kami gunakan yaitu senyawa ionik dan senyawa kovalen Polar, karena keduanya mudah larut dalam air. Senyawa ionik yang kami gunakan yaitu 10,1 gram Kalium nitrat (KNO3), sedangkan untuk senyawa kovalen Polar yaitu 19,2 gram sukrosa (C12H22O11).

Setelah melarutkan kedua senyawa tersebut dalam 10 mL air, kami memanaskannya diatas pembakar Bunaken dan menunggu hina kedua larutan mendidih, sambil diaduk hingga larut. Ketika kedua larutan mendidih, tidak ada padan yang tersisa sedikitpun. Kalium nitrat mendidih pada suhu 101 °C, sedangkan larutan sukrosa mendidih pada suhu 101 °C.

Kalium nitrat apabila dilarutkan dalam air, maka ion-ionnya (K+) dan (NO3), mengalami solvasi. Karena sifat koligatif hanya bergantung pada jumlah zat yang terlarut, Kalium nitrat memiliki dua zat terlarut, yaitu ion K+ dan ion NO3. Seharusnya larutan kalium nitrat jika dipanaskan akan mendidih pada suhu yang lebih tinggi dibandingkan larutan glukosa yang hanya memiliki 1 macam zat terlarut.  Ini mungkin disebabkan karena kesalahan pengamatan meniskus pada termometer, pengaruh suhu ruangan yang menyebabkan suhu larutan menjadi lebih rendah, maupun karena penggunaan termometer yang menempel pada dasar gelas beker sehingga mengurangi ketelitian pengukuran.

  1. DINI MEILA ANDRIANI

Pada praktikum kali ini yaitu mengenai sifat koligatif  terdapat empat  kali percobaan. Percobaan pertama yaitu difusi, percobaan ke dua mengenai kelarutan, percobaan ketiga mengenai efek suhu pada kelarutan, dan percobaan yang keempat mengenai sifat koligatif.

Percobaan pertama yaitu mengenai difusi. Pada percobaan ini digunakan ini digunakan H2O(aq) dengan zat pewarna K2CrO4. Setelah 1 menit H2O(aq) yang ditetesi 10 tetes K2CrO4 menjadi berwarna kuning dengan tampak fasa yang berbeda. Peristiwa mengalir/berpindahnya suatu zat dalam pelarut dari bagian yang berkonsentrasi tinggi kebagian yang berkonsentrasi rendah. Perbedaan konsentrasi yang ada pada kedua larutan disebut gradient konsentrasi. Difusi akan terus terjadi hingga seluruh partikel tersebar luas secara merata atau mencapai keadaan kesetimbangan dimana perpindahan molekul tetap terjadi walaupun tidak ada perbedaan konsentrasi.

Percobaan kedua yaitu kelarutan. Suatu zat dapat larut dalam pelarut tertentu tetapi jumlahnya selalu terbatas. Batas itu disebut kelarutan. Kelarutan adalah suatu zat yang dapat melarut pada sejumlah pelarut pada suhu tertentu sampai membentuk larutan jenuh. Pada percobaan kelarutan ini digunakan senyawa (bahan) NaCl (Natrium Klorida), CaCl2.2H2O (Kalsium Klorida Dihidrat), C12H22O11 (Gula), dan C10H8 (Naftalena). Masing masing senyawa (bahan) dilarutkan dalam H2O(aq) dan C6H14 (Heksana). Sebanyak 1 sendok spatula NaCl dilarutkan dengan H2O(aq) membentuk senyawa NaOH dengan HCl, NaCl larut dalam air karena NaCl merupakan ikatan ionik (senyawa yang dapat larut dalam air tetapi tidak dapat larut dalam pelarut organik seperti alcohol dan benzene). Sebanyak 1 sendok spatula CaCl2.2H2O (Kalsium Klorida Dihidrat) dilarutkan dalam H2O(aq) , CaCl2.2H2O dapat larut dalam air karena senyawa ini mempunyai ikatan ionik yang dapat larut dalam air sepeti halnya NaCl. Sebanyak 1 sendok spatula C12H22O11 (Gula) dilarutkan dalam H2O(aq), C12H22O11 dapat larut dalam air karena senyawa ini mempunyai ikatan kovalen Polar(jika dua senyawa yang memiliki ikatan yang sama dicampur/disatukan, maka keduanya akan saling melarutkan. Sebanyak 1 sendok spatula C10H8 (Naftalena) dilarutkan dalam H2O(aq), C10H8 (Naftalena) tidakdapat larut dalam air karena senyawa ini mempunyai ikatan kovalen non-polarsedangkan H2O(aq) mempunyai ikatan kovalen Polar.

Percobaan selanjutnya yaitu percobaan yang dilarutkan dengan C6H14 (Heksana). Sebanyak 1 sendok spatula NaCl dilarutkan dengan C6H14 (Heksana). NaCltidak  larut dalam C6H14 (Heksana)  karena NaCl merupakan ikatan ionik (senyawa yang dapat larut dalam air tetapi tidak dapat larut dalam pelarut organik seperti alkohol dan benzena). Sebanyak 1 sendok spatula CaCl2.2H2O (Kalsium Klorida Dihidrat) dilarutkan dalam C6H14 (Heksana), CaCl2.2H2O tidak dapat larut dalam C6H14 (Heksana) karena senyawa ini mempunyai ikatan ionik (senyawa yang dapat larut dalam air tetapi tidak dapat larut dalam pelarut organik seperti alkohol dan benzena). Sebanyak 1 sendok spatula C12H22O11 (Gula) dilarutkan dalam C6H14 (Heksana), C12H22O11 dapat tidak larut dalam C6H14 (Heksana) karena senyawa ini mempunyai ikatan kovalen Polarsedangkan C6H14 (Heksana) mempunyai ikatan kovalen non-polar. C10H8 (Naftalena) dilarutkan dalam C6H14 (Heksana), C10H8 (Naftalena) tidakdapat larut dalam C6H14 (Heksana)  karena senyawa ini mempunyai ikatan kovalen non-polar, C10H8 (Naftalena)  akan larut dalam benzena.

Percobaan ketiga mengenai efek suhu pada kelarutan. Pada percobaan ini digunakan senyawa (bahan) yaitu K2SO4, Na2SO4, dan KCl pada suhu 300C – 400C, 600C – 700C, dn 800C – 900C. Sebanyak 2 g  K2SO4 tinggi mula-mula 3cm, ditambahkan H2O(aq) yang bersuhu 390C sebanyak 10 ml, K2SO4 larut sebagian sehingga tingginya menjadi 2 cm, lalu kemudian dipanaskan dalam air yang bersuhu 650C, larutan K2SO4 larut kembali sebgian dengan tingginya menjadi 1cm, kemudian di panaskan lagi dalam air yang bersuhu 820C, K2SO4 tersebut kembali larut. Sebanyak 7 g  Na2SO4 tinggi mula-mula 6,5 cm, ditambahkan H2O(aq) yang bersuhu 390C sebanyak 10 ml, Na2SO4 larut sebagian sehingga tingginya menjadi 5cm, lalu kemudian dipanaskan dalam air yang bersuhu 650C, larutan Na2SO4 larut kembali sebgian dengan tingginya menjadi 2,5 cm, kemudian di panaskan lagi dalam air yang bersuhu 820C, Na2SO4 tersebut kembali larut. Sebanyak 5 g  KCl tinggi mula-mula 7 cm, ditambahkan H2O(aq) yang bersuhu 360C sebanyak 10 ml, KCl larut sebagian sehingga tingginya menjadi 5 cm, lalu kemudian dipanaskan dalam air yang bersuhu 680C, larutan KCllarut kembali sebgian dengan tingginya menjadi 3,5 cm, kemudian di panaskan lagi dalam air yang bersuhu 820C, KCl tersebut kembali larut. Kelarutan suatu senyawa bergantung pada sifat fisika dan kimia zat terlarut dan pelarut, juga bergantung pada faktor temperatur (suhu). Pengaruh suhu pada kelarutan zat berbeda beda antara yang satu dengan yang lainnya, tetapi pada umumnya kelarutan zat padat dalam cairan bertambah dengan naiknya suhukarena kebanyakan proses pembentukan larutan bersifat endoterm, tetapi ada zat yang sebaliknya, yaitu eksoterm dalam melarut. Percobaan ini sesuai dengan percobaan bahwa semakin tinggi suhu maka akan semakin cepat proses kelarutan terjadi.

Percobaan keempat yaitu mengenai sifat koligatif larutan. Sifat koligatif adalah sifat yang bergantung pada jumlah zat yang terlarut. Pada percobaan ini dilakukan pemanasan KNO3 dan C12H22O11 (Gula) dengan H2O(aq). Sebanyak 10,1 g KNO3ditambahkan 10 ml H2O(aq) lalu dipanaskan hingga mendidih, titik didih larutan KNO3 yaitu 1010C. KNO3 merupakan senyawa ionik yang dapat larut dalam air dan tidak dapat larut dalam pelarut organic seperti alcohol dan benzena. KNO3 merupakan senyawa elektrolit sehingga dapat dicari faktor van hoff’nya dengan persamaan.  Tb – Tb0 = m x kb x i. di dapatlah hasil dari perhitungan tersebut i sebesar 0,19.

KNO3(s) + H2O(aq) à HNO3(aq) + KOH(aq)

Sebanyak 19,2 g C12H22O11 (Gula) ditambahkan 10 ml H2O(aq) lalu dipanaskan hingga mendidih, titik didih larutan C12H22O11 (Gula)  yaitu 1010C. C12H22O11 (Gula) merupakan senyawa kovalen Polar yang dapat larut dalam air dan tidak dapat larut dalam pelarut organic seperti alcohol dan benzena. C12H22O11 (Gula)  merupakan senyawa nonelektrolit sehingga tidak ada faktor van hoff’nya.

C12H22O11(s) + H2O(aq) à larutan gula

  1. HADYA AYU HAJAYASTI

Pada percobaan pertama, yaitu difusi. Difusi adalah peristiwa berpindahnya molekul-molekul zat terlarut yang bergerak dari bagian berkonsentrasi tinggi ke bagian yang berkonsentrasi rendah. Difusi akan terus terjadi hingga seluruh partikel tersebar luas secara merata atau mencapai keadaan setimbang, dimana perpindahan molekul tetap terjadi walaupun tidak ada perbedaan konsentrasi.

Dalam percobaan ini, untuk membuktikan adanya proses Difusi, kami mereaksikan air sebanyak 75 mL sebagai pelarut dan larutan berwarna K2CrO4 sebagai terlarut. Disini cairan K2CrO4 berwarna kuning. Sehingga saat kita tetesi  tetes K2CrO4 ke dalam air. Pada awalnya Air dan K2CrO4 bercampur menjadi warna kuning. Tetapi setelah di diamkan selama 1 menit, larutan terpisah menjadi 3 lapisan. Lapisan dipermukaan atas terdapat sedikit cairan K2CrO4 ,lalu lapisan tengah air yang warnanya tetap bening, dan lapisan bawah adalah cairan K2CrO4 yang berwarna kuning terang.

Hal ini terjadi karena adanya perbedaan konsentrasi , berdasarkan hasil pengamatan cairan K2CrO4 berada di bawah, ini berarti konsentrasi K2CrO4 lebih tinggi daripada air. Molekul-molekul K2CrO4 yang berkonsentrasi tinggi berpindah, dan berhenti sampai keadaan setimbang. Lalu cairan K2CrO4 yang berada di lapisan atas adalah sisa dari cairan K2CrO4 yang belum berpindah, ini dikarenakan cairan K2CrO4 memiliki ukuran partikel yang lebih tinggi sehingga cairan ini membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mencapai keadaan setimbang.

Pada percobaan kedua, yaitu kelarutan. Kelarutan adalah kemapuan suatu zat terlarut (solute) untuk larut dalam suatu pelarut (solvent). Dalam percobaan ini, kami menguji kelautan dari empat bahan ini : NaCl, Gula, Kalsium klorida dihidrat (CaCl(2H2O)) dan Naftalena (C10H8) dalam pelarut yang berbeda, yaitu air (pelarut Polar) dan heksana (pelarut non-polar).

Reaksi pertama, kami mereaksikan 1 mL air dengan NaCl sebanyak 1 sendok spatula. Lalu kemudian diagitasikan dengan agak kuat. Dan hasil yang didapat adalah NaCl larut dengan air, larutan juga menjadi keruh , dan tidak berbau. Maka ini sesuai teori bahwa Polar melarutkan Polar.

Selanjutnya, kami mengganti pelarut dengan 1 mL heksana dan mereaksikan dengan NaCl sebanyak 1 sendok spatula. Lalu kemudian diagitasikan dengan agak kuat. Dan hasil yang didapat adalah NaCl tidak dapat larut dengan heksana, namun mengendap dengan warna endapan putih. Ini disebabkan karena NaCl merupakan senyawa Polar, sedangkan heksana merupakan senyawa non-polar. NaCl tidak dapat larut dalam heksana karena molekul pelarut non-polar tidak memiliki  momen dipol, molekul ini tidak secara efektif mensolvasi ion Na+ dan Cl. Berikut adalah persamaan rekasinya :

NaCl + H2O      → HCl + NaOH

NaCl + C6H14    → HCl + NaC6H13

Reaksi kedua, kami mereaksikan 1 mL air dengan Gula sebanyak 1 sendok spatula. Lalu kemudian diagitasikan dengan agak kuat. Dan hasil yang didapat adalah Gula dapat larut dengan air, dengan warna larutan menjadi sedikit keruh kekuningan , dan tidak berbau. Gula dapat larut karena gula merupakan senyawa kovalen Polar dan air adalah senyawa Polar.

Selanjutnya, kami mengganti pelarut dengan 1 mL heksana dan mereaksikan dengan Gula sebanyak 1 sendok spatula. Lalu kemudian diagitasikan dengan agak kuat. Dan hasil yang didapat adalah Gula tidak dapat larut dengan heksana, namun menggumpal dan mengendap didasar tabung dengan warna endapan putih. Ini disebabkan karena NaCl merupakan senyawa Polar, sedangkan heksana merupakan senyawa non-polar.

Reaksi ketiga, kami mereaksikan 1 mL air dengan Kalsium klorida dihidrat sebanyak 1 sendok spatula. Lalu kemudian diagitasikan dengan agak kuat. Dan hasil yang didapat adalah Kalsium klorida dihidrat dapat larut dengan air, dengan warna larutan menjadi sedikit keruh keputihan. Kalsium klorida dihidrat dapat larut karena Kalsium klorida dihidrat merupakan senyawa Polar dan air adalah senyawa Polar.

Selanjutnya, kami mengganti pelarut dengan 1 mL heksana dan mereaksikan dengan Kalsium klorida dihidrat sebanyak 1 sendok spatula. Lalu kemudian diagitasikan dengan agak kuat. Dan hasil yang didapat adalah Kalsium klorida dihidrat tidak dapat larut dengan heksana, namun menggumpal dan mengendap didasar tabung dengan warna endapan putih. Ini disebabkan karena Kalsium klorida dihidrat merupakan senyawa Polar, sedangkan heksana merupakan senyawa non-polar.

Reaksi keempat, kami mereaksikan 1 mL air dengan Naftalena sebanyak 1 sendok spatula. Lalu kemudian diagitasikan dengan agak kuat. Dan hasil yang didapat adalah Naftalena tidak dapat larut dengan air, namun menggumpal dan mengendap didasar tabung dengan warna endapan putih. Naftalena tidak dapat larut karena Naftalena merupakan senyawa non-polar dan air adalah senyawa Polar.

Selanjutnya, kami mengganti pelarut dengan 1 mL heksana dan mereaksikan dengan Naftalena sebanyak 1 sendok spatula. Lalu kemudian diagitasikan dengan agak kuat. Dan hasil yang kami peroleh adalah Naftalena tidak dapat larut dengan heksana, keadaan larutan sedikit keruh. Seharusnya Naftalena ini dapat larut dengan heksana. Ini disebabkan karena Naftalena merupakan senyawa non-polar, sedangkan heksana merupakan senyawa non-polar. Perbedaan hasil yang kami dapat dengan teori, bisa dikarenakan faktor suhu atau faktor saat pengagitasi kurang lama.

Pada percobaan yang ketiga, yaitu Efek suhu pada kelarutan. Kami menguji dengan menggunakan 3 bahan, yaitu : K2SO4 (Kalium Sulfat), Na2SO4 (Natrium Sulfat), dan KCl. Dimana kami akan membandingkannya pada suhu yang berbeda, yaitu : pada suhu 30°-40°C, 60°-70°C, dan 80°-90°C.

Pertama, terlebih dahulu kami memanaskan 50 mL Aquades. Dan ketika suhu air menjangkau 30°-40°C kami menghentikan pemanasan dan menambahkan 10 mL air hangat tersebut ke masing-masing tabung reaksi yang sudah di isi 2 g K2SO4, 7 g Na2SO4, dan 5 g KCl. Dan hasil yang didapat adalah:

  • 10 mL Aquades direaksikan dengan 2 g K2SO4, pada suhu 30°-40°C ini Kalsium sulfat belum larut dalam Aquades. Melainkan masih mengendap dengan keadaan warna tidak berubah dan endapan berwarna putih. Dan juga tinggi endapan tidak berubah yaitu 3cm.
  • 10 mL Aquades direaksikan dengan 7 g Na2SO4, pada suhu 30°-40°C ini Natrium sulfat belum larut dalam Aquades. Melainkan masih mengendap dengan keadaan warna tidak berubah dan endapan berwarna putih. Dan juga tinggi endapan tidak berubah yaitu 6,5cm.
  • 10 mL Aquades direaksikan dengan 5 g KCl, pada suhu 30°-40°C ini KCl belum larut dalam Aquades. Melainkan masih mengendap dengan keadaan warna tidak berubah dan endapan berwarna putih. Dan juga tinggi endapan tidak berubah yaitu 7cm.

Selanjutnya, Aquades yang masih tersisa 20 mL dari pemanasan awal dipanaskan kembali hingga suhu 60°-70°C dan kedalam beaker glass besar tersebut dimasukkan kembali 3 tabung reaksi. Sehingga, hasil pengamatan yang didapatkan adalah:

  • Pada tabung berisi Aquades ditambahkan 2 g K2SO4, pada suhu 60°-70°C ini Kalsium sulfat sedikit melarut dalam Aquades. Bisa dilihat dari berkurangnya endapan menjadi 2cm. Keadaan warna tidak berubah dan endapan masih berwarna putih. Dan juga dalam tabung reaksi terlihat adanya gelembung.
  • Pada tabung berisi Aquades ditambahkan 7 g Na2SO4, pada suhu 60°-70°C ini Natrium sulfat sedikit melarut dalam Aquades. Bisa dilihat dari berkurangnya endapan menjadi 5cm. Keadaan warna tidak berubah dan endapan masih berwarna putih. Dan juga dalam tabung reaksi terlihat adanya gelembung.
  • Pada tabung berisi Aquades ditambahkan 5 g KCl, pada suhu 60°-70°C ini KCl sedikit melarut dalam setengahnya. Bisa dilihat dari berkurangnya endapan menjadi 3,5cm. Keadaan warna tidak berubah dan endapan masih berwarna putih. Dan juga dalam tabung reaksi terlihat adanya gelembung.

Lalu yang terakhir, Aquades dipanaskan kembali hingga suhu 80°-90°C dan masukkan kembali 3 tabung reaksi ke dalam beaker glass besar sambil mengaduknya tau meng-agitas kembali. Sehingga, hasil pengamatan yang didapatkan adalah:

  • Pada tabung berisi Aquades ditambahkan 2 g K2SO4, pada suhu 80°-90°C ini larutan Kalsium sulfat melarut setengahnya dalam Aquades. Bisa dilihat dari berkurangnya endapan menjadi 1cm. Keadaan warna tidak berubah dan endapan masih berwarna putih. Dan juga dalam tabung reaksi terlihat lebih banyak gelembung. Larutan ini tetap tidak melarut sampai suhu tidak naik lagi dan tetap disuhu 82°C.
  • Pada tabung berisi Aquades ditambahkan 7 g Na2SO4, pada suhu 80°-90°C ini larutan Natrium sulfat melarut setengahnya dalam Aquades. Bisa dilihat dari berkurangnya endapan menjadi 2,5cm. Keadaan warna tidak berubah dan endapan masih berwarna putih. Dan juga dalam tabung reaksi terlihat lebih banyak gelembung. Larutan ini tetap tidak melarut sampai suhu tidak naik lagi dan tetap disuhu 82°C.
  • Pada tabung berisi Aquades ditambahkan 5 g KCl, pada suhu 80°-90°C ini KCl hanya melarut sedikit. Bisa dilihat dari berkurangnya endapan menjadi 2cm. Keadaan warna tidak berubah dan endapan masih berwarna putih. Dan juga dalam tabung reaksi terlihat adanya gelembung. Larutan ini juga tetap tidak melarut sampai suhu tidak naik lagi dan tetap disuhu 82°C.

Dari hasil 3 perlakuan suhu yang berbeda diatas, dapat dilihat bahwa suhu berpengaruh pada kelarutan. Pengurangan endapan pada saat suhu dinaikkan dikarenakan proses pelarutan bersifat eksoterm, maka kelarutannya berkurang pada suhu yang lebih tinggi. Dapat dikatakan juga bahwa kelarutan umumnya berkurang pada temperatur yang lebih tinggi. Maka faktor lainnya dapat dilihat dari timbulnya atau adanya gelembung-gelembung udara yang keluar dari air, sehingga air tersebut menjadi berkurang.

Pada percobaan yang terakhir, yaitu sifat koligatif. Dimana sifat koligatif adalah sifat larutan yang tidak bergantung pada jenis zat terlarut tetapi hanya bergantung pada konsentrasi partikel tersebut. Pada percobaan ini kami akan mengidentifikasi titik didih dari KNO3 dan Gula yang dilarutkan dengan air sebagai pelarut.

Larutan KNO3 dan Gula ini dipanaskan, setelah di cek dengan menggunakan termometer KNO3 memiliki titik didih 101°C dan Gula 101°C. Pada kedua larutan ini seharusnya kenaikan titik didih KNO3 lebih besar dari Gula. Karena larutan KNO3 merupakan larutan elektrolit yang dipengaruhi dengan faktor Van’t Hoff, sehingga KNO3 memiliki titik didih yang besar. Berarti gaya tarik menarik antar molekulnya lebih kuat daripada larutan gula. Hasil yang kami dapat ini berbeda dengan teori. Faktor kesalahan yang terjadi pada percobaan ini adalah kesalahan pada saat melihat skala thermometer, atau thermometer menyentuh dinding atau alas sehingga tidak mengukur suhu larutan.

  1. LATIFATUNABILAH

Pada percobaan yang pertama adalah difusi. Difusi adalah peristiwa yang mengalirnya atau berpindahnya suatu zat dalam pelarut dari bagian konsentrasi tinggi ke bagian yang berkonsentrasi rendah. Difusi akan terus terjadi sehingga seluruh partikel tersebar luas secara merata atau mencapai keadaan setimbang.

Sama halnya dengan percobaan kali ini yaitu difusi antara aquades (H2O) ditambahkan beberapa tetes K2CrO4 berwarna kuning. K2CrO4 yang berkonsentrasi tinggi seluruh partikelnya tersebar luas secara merata sehingga aquades (H2O) berwarna kuning merata karena telah mencapai kesetimbangan. Difusi dalam praktikum kali ini mencapai kesetimbangannya  sangat cepat, karena ukuran partikel dari K2CrO4 yang sangat kecil menyebabkan partikel tersebut akan bergerak dengan cepat sehingga kecepatan difusi semakin tinggi.

Selanjutnya yaitu praktikum kelarutan. Dalam praktikum kali ini kita menggunakan dua pelarut yaitu H2O (aquades) dan heksana, dan zat terlarut yang dipakai antara lain: NaCl, gula, CaCl (2H2O), dan naftalen.

Dari ke empat zat terlarut tersebut tiga diantaranya larut dalam pelarut H2O (aquades) dengan baik, sedangkan naftalen tidak dapat larut, ini karena naftalen senyawa hidrokarbon aromatis yang bersifat non polar yang tidak dapat larut dalam pelarut H2O (aquades) yang bersifat polar. Berdasarkan kelas kelarutannya naftalen digolongkan pada kelas 1. Hal ini didasarkan pada naftalen yang tidak dapat larut dalam pelarut yang bersifat asam maupun basa. Hal ini juga dipengaruhi oleh berat formula naftalen cukup besar dan energi resonasinya sedikit lebih rendah. Dari ke tiga zat terlarut yang dapat larut dalam pelarut H2O (aquades) diantaranya: NaCl, gula,  CaCl (2H2O). NaCl dapat larut dalam pelarut H2O (aquades) karena ion-ionnya distabilkan dalam larutan melalui hidrasi,yang melibatkan interaksi ion-dipol, sehingga bahwa senyawa ionik akan jauh lebih larut dalm pelarut polar seperti H2O,dibandingkan pelarut non polar seperti heksana.karena pelarut non polar tidak memilki momen dipol, molekul seperti ini tidak dapat secara efektif mensolvasi ion-ion (solvasi ialah proses dimana ion atau molekul dikelilingi oleh molekul pelarut yang memiliki susunan tertentu). Selain NaCl yang senyawa ionik CaCl (2H2O) pun merupakan senyawa ionik yang akan mudah larut dalam pelarut polar yaitu H2O (aquades). Zat terlarut selanjutnya ialah gula, gula merupakan senyawa kovalen polar, sehingga dibentuk oleh ikatan kovalen dan muatan dielektriknya adalah 0, karena kecilnya perbedaan keelektronegatifannya.

Untuk pelarut heksana semua zat terlarut tidak dapat larut, karena dari ke empat zat terlart hampir semuanya senyawa ionik dan kovalen polar yang akan mudah larut dalam pelarut polar sedang heksana merupakan pelarut non polar, seperti NaCl yang merupakan senyawa ionik, interaksi antar molekul yang menonjol antara ion-ionnya dan senyawa non polar ialah interaksi ion-dipol tereduksi, yang jauh lebih lemah dibandingkan interaksi ion-dipol. Akibatnya, senyawa ionik biasanya memiliki kelarutan yang sangat rendah dalam pelarut non polar.

Praktik selanjutnya yaitu efek suhu pada kelarutan. Pada praktik ini kita memanaskan 50 ml H2O (aquades) dalam gelas beaker dan memasukan zat seperti 2 gr K2SO4, 7 gr NaSO4, dan 5 gr KCl kedalam tabun reaksi, dan setelah air yang di panaskan bersuhu sekitar 30-40°C, masukan air hangat tersebut kedalam masing-masing tabung reaksi yang berisikan zat yang telah di sediakan, panaskan kembali air tersebut hingga mencapai suhu 60-70°C, setelah itu masukan tabung reaksi ke dalam beaker gelar yang berisi H2O (aquades) yang di panaskan lalu aduk, sampai air mencapai suhu 100°C. Dari perlakuan tersebut akan terlihat efek suhu pada kelarutan, suhu akan mempengaruhi kelarutan, semakin tinggi suhu akan meningkat pula kelarutan zat padat. Tapi tidak berlaku pada kelarutan gas terhadap suhu, karena semakin tinggi suhu maka kelarutan gas akan menurun. Ini berbanding terbalik dengan kelarutan zat padat.

Praktikum yang terakhir yaitu sifat koligatif larutan yang merupakan kenaikan titik didih. Titik didih zat cair adalah suhu tetap pada saat zat cair sama dengan tekanan udara disekitarnya, hal ini menyebabkan penguapan di sekitar bagian zat cair. sedangkan titik didih larutan ialah suhu pada saat tekanan uap larutan sama dengan tekanan atsmosfer luar. Pada umumnya tekanan titik didih  larutan lebih besar dari tekanan titik didih pelarut, karena energi yang dibutuhkan untuk mendidihkan larutan lebih besar dari pada untuk mendidihkan suatu pelarut. Sehingga tekanan titik didih lebih besar. Ini terlihat ketika praktikum yaitu titik didih larutan gula sekitar 101-103°C.

  1. KESIMPULAN
  2. AHMAD HANIF FAHRUDY
  3. Difusi yaitu peristiwa berpindahnya suatu zat dalam pelarut dari bagian yang berkonsentrasi tinggi ke bagian yang berkonsentrasi rendah sehingga mencapai titik kesetimbangan, dimana molekul-molekul dalam pelarut bebas bergerak tanpa mengubah konsentrasi akhir larutan.
  4. Pada pelarut Polar seperti air, secara umum senyawa ionik dan senyawa kovalen Polar dapat larut, sedangkan senyawa kovalen Polar tidak dapat larut. Ini menunjukan bahwa secara umum, teori “yang sejenis melarutkan yang sejenis” berlaku.
  5. Suhu mempengaruhi kelarutan zat terlarut, dimana semakin tinggi suhu, maka kelarutan zat terlarut semakin besar.
  6. Larutan memiliki titik didih yang lebih tinggi dibandingkan pelarut murni seperti air.
  7. Faktor van’t Hoff hanya dapat dihitung pada larutan yang mengandung senyawa elektrolit.
  8. DINI MEILA ANDRIANI
  9. Difusi adalah perpindahan zat cair dari yang konsentrasinya tinggi ke yang konsentrasinya rendah.
  10. Kelarutan merupakan ukuran banyaknya zat terlarut yang akan melarut dalam pelarut dalam suhu tertentu. “yang sejenis melarutkan yang sejenis”.
  11. Kelarutan suatu zat akan bertambah dengan semakin meningkatnya suhu. Hal ini disebabkan karena semakin tinggi suhu maka tumbukan antara partikel partikel dalam zat tersebut semakin cepat sehingga akan mempercepat terjadinya reaksi (pelarutan)
  12. Sifat koligatif tidak bergantung pada zat terlarut tetapi bergantung pada jumlah zat terlarutnya (konsentrasi).
  13. Dari percobaan dapat menghitung faktor van’ hoff.
  14. HADYA AYU HAJAYASTI
  15. Difusi terjadi karena adanya peristiwa berpindahnya suatu zat dalam pelarut dari bagian berkonsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah. Difusi akan terus terjadi hingga seluruh partikel kedua larutan tersebar luas secara merata atau mencapai keadaan setimbang.
  16. Kelarutan sangat berkaitan sekali dengan prinsip like disolve like, dimana larutan polar akan melarutkan larutan polar dan sebaliknya larutan non-polar melarutkan non-polar ini dikarenakan jenis dan besar gaya antar molekul yang sama akan cenderung saling melarutkan.
  17. Suhu berpengaruh pada kelarutan, dikarenakan proses pelarutan bersifat eksoterm maka kelarutannya berkurang pada suhu yang lebih tinggi. Dapat dilihat juga dari berkurangnya endapan pada saat suhu lebih tinggi.
  18. Adanya zat terlarut akan mempengaruhi titik didih. Kenaikan titik didih zat terlarut akan lebih tinggi dibanding zat pelarut,karena gaya tarik menarik antar molekul zat terlarut lebih kuat daripada zat pelarut.
  19. LATIFATUNABILAH
  20. Senyawa yang berkonsentrasi tinggi akan mengalir atau menyebar ke larutan yang berkonsentrasi rendah (encer).
  21. Kelarutan suatu larutan tergantung dari jenis pelarutnya, jenis zat terlarutnya, dan suhu.
  22. Suhu merupakan salah satu faktor yang mempengruhi kelarutan. Semakin tinggi suhu semakin tinggi kelarutan suatu zat padat.
  23. Kenaikan titik didih di pengaruhi oleh konsentrasi suatu zat dan konstanta kenaikan titik didihnya.
  24. DAFTAR PUSTAKA
  25. AHMAD HANIF FAHRUDY
  26. 2012. Chemistry: The Molecular Nature of Matter 6th –ed. USA: John Wiley and Sons, Inc.
  27. Brown, Theodore. 2012. Chemistry: The Central Science 12th –ed. USA: Prentice Hall.
  28. Chang, Raymond. 2010. Chemistry 10th –ed. New York: McGraw Hill.
  29. 2012. Chemistry: An Introduction to General, Organic, and Biological Chemistry 11th –ed. USA: Prentice Hall.
  30. 2014. Chemistry 9th –ed. USA: Cengage Learnings.
  31. DINI MEILA ANDRIANI
  32. Chang, Raymond. 2003. Kimia Dasar edisi ketiga jilid 2. Jakarta: Erlangga
  33. Paramudya B, Muniroch. 2010. Kimia SMA. Jakarta: PT Kawan Pustaka
  34. http://ud.wikipedia.org/wiki/sifat_koligatif_larutan
  35. kelarutan.blogspot.com
  36. HADYA AYU HAJAYASTI
  37. Anonim A.2009. Difusi. http://id.wikpedia.org/wiki/Difusi .25/11/2009. Diakses pada tanggal 26 Februari 2015
  38. Anonim1. 2009. Sifat koligatif larutan. http://www.chem-is-try.org. Diakses pada tanggal 26 Februari 2015
  39. Anonim2. 2009. Penurunan titik uap. http://kimia.upi.edu.com. Diakses pada tanggal 26 Februari 2015
  40. Chang, Raymond. 2005. Kimia Dasar Jilid 2. Jakarta: Erlangga
  41. LATIFATUNABILAH
  42. 2013. Sifat koligatif larutan. http://id.wikipedia.org/wiki/sifat_koligatif_larutan
  43. Chang, Raymond. 2004. Kimia Dasar jilid 2. Jakarta: Erlangga.
  44. LAMPIRAN
  45. DOKUMENTASI FOTO

 

  • Sepuluh tetes K2CrO4 dalam aquades
  • 1 mL aquades
  • 1 mL heksana
  • Padatan C11H22O11
  • Padatan CaCl2.2H2O
  • Padatan NaCl
  • Padatan C10H8
  • Senyawa C11H22O11setelah diaduk dalam aquades
  • Senyawa CaCl2.2H2O setelah diaduk dalam aquades
  • Senyawa NaCl setelah diaduk dalam aquades
  • Senyawa C10H8 setelah diaduk dalam aquades
  • Senyawa C11H22O11 setelah diaduk dalam heksana
  • Senyawa CaCl2.H2O setelah diaduk dalam heksana
  • Senyawa NaCl setelah diaduk dalam heksana
  • Senyawa C10H8 setelah diaduk dalam heksana
  • Dua gram K2SO4
  • Tujuh gram Na2SO4
  • Lima gram KCl
  • Larutan K2SO4 pada suhu 39 °C
  • Larutan Na2SO4 pada suhu 39 °C
  • Larutan KCl pada suhu 39 °C
  • Larutan K2SO4 pada suhu 68 °C
  • Larutan Na2SO4 pada suhu 68 °C
  • Larutan KCl pada suhu 68 °C
  • Pemanasan KNO3 dalam aquades
  • Larutan KNO3 yang mendidih
  • Senyawa C11H22O11
  • Pemanasan C11H22O11 dalam aquades
  • Larutan C11H22O11 yang mendidih

 

  1. PRE-TEST
No Senyawa Ionik Kovalen Polar Non-polar
1 H2O Ya Ya  –
2 K2CrO4 Ya  –  –
3 C6H14  – Ya  – Ya
4 NaCl Ya  –  –  –
5 CaCl2.2H2O Ya  –  –  –
6 C11H22O11  – Ya Ya  –
7 C10H8  – Ya  – Ya
8 K2SO4 Ya  –  –  –
9 Na2SO4 Ya  –  –  –
10 KCl Ya  –  –  –
11 KNO3 Ya  –
  1. Buatlah daftar senyawa yang kita gunakan pada percobaan ini, lalu kelompokkan berdasarkan senyawa ionik, kovalen, kovalen Polar, dan non-polar!

 

  1. Apa kesamaan yang terdapat pada garam-garam yang digunakan dalam percobaan efek suhu pada kelarutan? Apa perbedaannya?

Jawab: Persamaan senyawa yang digunakan dalam percobaan efek suhu pada kelarutan seperti K2SO4, Na2SO4, dan KCl merupakan senyawa ionik yang membentuk asam dan basa. Perbedaannya yaitu terletak pada jumlah ion yang terhidrolisis jika direaksikan dengan air yang biasa disebut sebagai orde reaksi untuk kelarutan. Untuk K2SO4 terspisah menjadi 2 ion K+ dan 1 ion SO42-. Untuk Na2SO4 terpisah menjadi 2 ion Na+ dan 1 ion SO42-. Untuk KCl terpisah menjadi 1 ion K+ dan 1 ion Cl.

  1. Sifat koligatif apa yang sedang kita pelajari?

Jawab: Sifat koligatif yang sedang kita pelajari yaitu kenaikan titik didih larutan elektrolit.

  1. POST-TEST
  2. Apakah minyak goreng merupakan zat yang Polar atau non-polar? Jelaskan alasannya!

Jawab: Minyak goreng merupakan senyawa kovalen non-polar, karena minyak goreng tidak dapat larut dalam air. Minyak goreng yang bersifat non-polar tidak dapat larut dalam air yang bersifat Polar karena keduanya bukan termasuk zat yang sejenis.

  1. Apa yang anda pikir tentang penurunan titik beku? Dapatkah menerangkannya?

Jawab: Penurunan titik beku disebabkan karena larutan lebih tidak teratur dibandingkan air murni sebagai pelarut, maka lebih banyak energi yang harus diambil darinya untuk menciptakan keteraturan dibandingkan pelarut murni. Oleh karena itu larutan selalu memiliki titik didih yang lebih rendah dibandingkan pelarut murni seperti air.

  1. Perhatikan senyawa-senyawa yang kita gunakan untuk percobaan kenaikan titik didih dan harga “i” yang dihitung untuk masing-masing senyawa. Apa realitas dari “i” itu?

Jawab: “i” disini adalah faktor van’t Hoff, yang menunjukkan ukuran banyaknya penguraian elektrolit dalam larutan.